Tampilkan postingan dengan label coret. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label coret. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Agustus 2017

Kabar dari Jalan

Selamat pagi,

Kapanpun kamu membaca ini, surat ini akan selalu beraroma awal hari. Waktu yang dulu sering kamu habiskan dengan menarik selimutmu lebih tinggi sampai alarm terkahir berbunyi. Kamu suka waktu ini jika tak diisi dengan tergesa-gesa.

Minggu, 16 Juli 2017

Tiga Orang dalam Raditya Dika

Digambarkan dengan semena-mena oleh dirinya sendiri
Sejak pertama kali mengenal namanya melalui sebuah buku berjudul Kambing Jantan, saya termasuk satu diantara yang tak lepas mengikuti berbagai karyanya yang lain. Meski bukan penggemar garis keras, banyak karya (dan kadang kehidupan pribadinya) menarik untuk diikuti. Kali ini video unggahan mengenai perjalanan hidupnya lah yang memanggil saya, setelah banyak orang di sekitar saya membicarakannya. Mereka bilang, tonton lah untuk tau siapa sebenarnya Radit.

Jumat, 09 Juni 2017

Sekali lagi, berguru

Kali ke lima belas. Sama indahnya sejak mampu merampungkan satu bulan penuh belajar menahan sesuatu yang tak perlu. Belajar yang tidak pernah sempurna, sebab lupa atau belum mengerti maknanya. Waktu penuh keajaiban sejak pertama kali ini sekolah ini diperintahkan Tuhan. Saya tidak lagi meragukannya. Ramadan.

Minggu, 14 Mei 2017

[Review] Kartini : Perayaan dengan Airmata

Saya menangis untuk banyak hal, dimanapun airmata ini mau turun, termasuk di depan layar atau di hadapan buku. Airmata biasanya membuat saya lebih lama mengingat dan memikirkan apa yang saya lihat setelah semua halaman atau layar berubah jadi hitam. Baru-baru ini film Kartini lah sebabnya.

Senin, 09 Januari 2017

Melangkah, Menghampiri Genap

sesekali berhenti, untuk hal-hal seperti ini

Sembilas belas tahun lalu, kejadian ini masih kerap diceritakan ibu dan beberapa orang yang ikut membesarkanku. Ketakutanku belajar berjalan setelah jatuh untuk kali pertama. Mungkin kemudian hal ini yang tak lagi diherankan keluarga saya, jika melihat bagaimana saya melangkah di kaki yang sudah lebih panjang dan seharusnya semakin kokoh memijak. Kakiku kerap kali melangkah serampangan kata orang, mendesak-desak orang yang berjalan di sebelahku sampai mereka kesal dan tak mau melangkah lurus. Tak jarang kemudian, saya jatuh tanpa sebab yang jelas.

Selarik Berarti

Bu, terima kasih sudah mengajari, menulari
Pelajaran yang harus ku eja di hari-hari pertama melihat dunia
Masih terbawa, ku pasang dalam hari gelap juga senang
Tidak semua berarti segalanya menjadi baik
Di satu dua kali pada hatiku yang sempat patah
Mengulangi satu tarikan sederhana, rasanya bermakna
Paling tidak menguji diri agar tidak pernah lupa
Aku masih punya senyum yang kau patri dalam ingatan

Senin, 02 Januari 2017

Ya ? Tunggu Dulu

Banyak dari orang-orang yang mengenal saya bilang saya super sibuk, susah ditemui, dan cenderung sombong hingga enggan kembali melontarkan ajakan. Sesering itu juga saya berusaha melakukan pengelakan yang sia-sia. Hal ini kerap terjadi dari banyaknya bentrok jadwal dan kata iya yang cukup mudah keluar dari mulut saya. Ulah si pelupa atau mudah tergiur berbagai ajakan terutama yang bersifat senang-senang mengakibatkan banyak jam-jam melenceng dari rencana dalam kepala yang sering membuat urusan saya bertambah banyak di kemudian hari.

Selasa, 13 Desember 2016

Ketika Kita

Tidak bisa tidak,
Saat langkah setuju untuk berpadu 
Akan ada lebih dari sebuah seteru
Aku setuju
Bukan untuk beradu, maksudku
Tapi memulai jalan baru
Adalah perkara berani maju, atas apa tujuan yang tak lagi diperjuangkan sendirian
Ada hal-hal di luar nalar, atau kemungkinan yang pernah terpikirkan
Tinggal menunggu giliran
Siapa yang akan terheran-heran lebih dulu
Kemudian menahan, bertahan
Karena semua bisa dipertimbangkan
Seperti semua awal mula,
Bagaimana setiap kata terawat dalam pendengaran
Seperti satu-satu harapan yang dilayangkan dan tidak untuk begitu saja dilupakan

Minggu, 30 Oktober 2016

Mengambil Ancang-ancang

Sekitar dua bulan yang lalu, saya baru saja selesai mengikuti kegiatan KKN yang saya ceritakan disini, sekaligus Praktik Pengenalan Lapangan (PPL) di salah satu SMA di Jawa Tengah. Kewajiban saya selama masa PPL ini adalah terjun langsung untuk memiliki pengalaman nyata dalam mengajar. Ternyata hal itu bukan hal yang mudah. Pertemuan-pertemuan pertama saya hancur. Banyak hal luput dari ideal mengajar yang sudah pernah diteorikan oleh para dosen saya di perkuliahan.
Berhadapan dengan mereka, berarti berlatih mengambil ancang-ancang

Kamis, 02 Juni 2016

#ProjectBerdua : Meski Bukan Satu-Satunya




Manusia dan ingatannya adalah dua hal yang kerap kali tak terhubung dengan baik. Inilah yang saya alami sebelum memulai tulisan ini. Saya kembali mengulik sejak kapan saya ada disini, membuat serangkaian jejak-jejak kata yang lebih sering saya sembunyikan meskipun ini dunia maya. Ternyata, sudah 6 tahun ke belakang rumah ini saya bangun, meski masih sekedarnya. Iya, sejak 2011 saya berhasil membuat rumah ini ada meski awalnya hanya terisi hasil salin dan tempel dari sumber-sumber lain.

Senin, 16 Mei 2016

Yang kamu lakukan itu jahat, Rangga

Banyak yang tak asing dengan sepotong kalimat ini, apalagi mereka yang telah menonton sekuel film Ada Apa Dengan Cinta. Termasuk juga saya, bahkan bagi saya ini adalah kalimat yang merangkum keseluruhan isi film. Mari lupakan meembahas serba-serbi film ini, secara keseluruhan saya mengapresiasi dengan baik adanya film ini meskipun ada beberapa hal yang kurang saya sukai. Tapi tulisan ini bukan tentang itu, ini tentang emosi dalam kalimat yang diucapkan Cinta, sang tokoh utama.

Minggu, 10 April 2016

Sudah malam

Aku berhitung satu-satu
Tentang sesiangan yang teramat megah
Seperti bukan panggungku
Aku kelu
Padahal biasanya mulutku menyemburkan apapun, sekalipun hanya gerutu
Kau pasti tau

Kini sudah malam
Saatnya tak lagi memikirkan ketuntasan yang mengejar kata pasti
Esok saja masih ada kelebihan sepersekian detik untuk melanjutkan asa, katamu
Merebah pada pelukmu
Pulang
Permintaanmu hanya itu
Dan aku setuju

Kamis, 31 Maret 2016

Saya (tak) cemburu

Saya disampingmu, jika kamu mau bercerita tentang bahagia yang pernah kamu punya dan mungkin sesekali kamu rindu. Satu dua kali saya mungkin mendebatnya, merasa heran tapi bukan iri. Saya akan lebih banyak diam dan mencatat dalam hati, untuk tak memberikanmu reka ulang ketika kamu disini bersama saya. Karena kenangan yang berkelindan tumpang tindih hanya akan merumitkan. Tentu, karena saya tak ingin menjadi pembanding. Tolong catat, ini bukan karena cemburu.

Jumat, 26 Februari 2016

Jika Rindu

Kemana seharusnya anakan sungai yang meluap ini beralamat?
Tak pernah ada cukup waktu untuk bersabar menemukan lautan kering menyisakan garam
Segala kenang tumpah ruah membanjiri jalan yang ditempeli tawa kita di hari kemarin
Tak ada sesal bila itu membawa aroma tubuhmu yang tak pernah berganti dalam ingatanku

Sulit untuk meminta rindu agar berhenti mengetuk-ngetuk
Maka ku bukakan pintu yang membawa dingin pada telapak kaki
Membiarkan ingatan tentang percakapan yang tak selesai diantara kita menyelesaikan kalimatnya sendiri
Aku menonton dengan kelu
Disini masa dorman bagi cerita bersamamu tak lagi berlagu
Akan menjadi panjang dan tak menemukan tetas benih seperti dalam cita-cita

Tak ada yang bisa berhitung berapa kali aku akan kembali dikunjungi
Aku sudah bersiap menampung semuanya sendiri
Bukan berlagak kuat menangkup bah
Aku hanya tak bisa lagi berjalan menujumu untuk pulang
Dan sebuah andai tak lagi mampu menjadi bintang terang

Minggu, 21 Februari 2016

Kerap Kali Takut



Tuhan, hari surat ini beralamatkan padaMu. Mungkin sebelum aku sampai pada titik penutup, segalanya telah terbaca dengan jelas. Karena seluruh pikir juga hati titipan dariMu ini selalu menunggu Kau berkenan untuk sekedar mampir. Nyatanya, aku masih terlalu meremehkan ya? Mampir adalah perkara tak sengaja kemudian lekas pergi lagi, tapi kedatanganMu tak pernah seperti itu. Selalu datang dan tak pernah pergi, aku saja yang kadang kala lupa mencari di ruang mana Kau sedang serius memperbaiki satu-satu kerusakan yang ku buat sendiri.

Kamis, 06 Agustus 2015

Dalam tidur

Pedati beroda besi ini panjang sekali, nak. Seperti perjalananmu yang diam-diam menjadi doaku. Malam ini, dalam pejam matamu aku tau kamu begitu berarti di bumi. Paling tidak bagi dua orang yang mau mengalah, bersusah untukmu mempersiapkan mimpi.
Seperti apa rupa esok hari, hadapilah nak. Tertawa sajalah hingga tak ada takut yang membayangi kaki-kakimu berjingkat ke udara. Lakukan permainanmu dengan membuka inderamu satu-satu, hingga mengerti mengapa ibu ayahmu masih kerap mengingatkan dengan berbagai nada. Memahami kebebasan tak berarti sekenanya.
Selama tidur, nak. Untukmu matahari esok berjanji tak menyengatmu begitu saja.

Rabu, 10 Juni 2015

Display Picture teman

   Saya menyimpan gambar ini dari salahsatu display picture di kontak list messenger yang saya gunakan. Entah siapa yang memulai melontarkan kalimat ini, tetapi saya setuju dengan pernyataannya dan sudi menjadi bagian dari 'kami'. Terhitung sejak dua tahun lalu saat salahsatu mimpi besar saya di acc Allah.
   Ini perantauan yang pertama bagi saya dan mungkin menjadi tahap awal dari rantauan saya berikutnya kelak, seperti beberapa teman seumuran saya yang sudah lebih dulu merasakan jauh dari rumah dimana keluarga yang terhubung darah berada. Ada beberapa yang merantau sejak SMA, bahkan SMP!

Sabtu, 30 Mei 2015

bayang


sengajakah kamu masuk dalam bayang?
dalam pandang
kamu menjadikanku pulang 
dengan senyum yang begitu lapang 
tanpa perlu aku menoleh untuk memastikan siapa yang datang
kusimpan ini meski hanya dalam kenang


Selasa, 12 Mei 2015

Selamat yang Sedikit Terlambat

   Selamat ulangtahun untukmu, bu. Ucapan ini terlewat, tapi tidak dengan doa, kupastikan itu. Maaf aku yang terlalu sibuk berkeluh tentang setitik luka sehingga tak tepat waktu menuliskan ini, tak apa ya bu?
   Tahun ini adalah tahun keduaku tak berada tepat di sisimu untuk mengamini setiap senyum yang kau lambangkan syukur karena purna tugas di tahun yang lalu dan siap menjalani tahunmu yang baru. Pun tahun ini, justru aku yang kau hadiahkan dengan penawar terbaik sehingga aku tak rebah, ketika akhirnya hati ini benar-benar patah.

Jumat, 03 April 2015

Terbiasa Berbeda

Kamu. Aku. Kita yang berbeda
Sekali ini aku tak ingin menyangkalnya
Kamu lahir tujuh bulan lebih dulu di musim terik dan kususul saat hujan sedang ramai-ramainya
Disitu kita sudah berbeda
Nyatanya kita tetap menganggapnya sama sejak dulu, perkenalan pertama.
Lewat seorang tokoh lain yang membuat kita meriah
Tak banyak masa kecil mu yang aku tau selain temanmu juga sama denganku dan dua saudaramu yang tak pernah bermain jauh dari kita. Kalian bertiga begitu mirip.
Setelahnya, kita seperti menggenapi takdir rotasi yang Tuhan genapkan pada masing-masing harap
Tetap ada tapi tak bertatap
Jika aku bumi, mungkin saat itu kamu jadi venusnya. Kamu beredar dekat tapi hanya pada beberapa fajar aku mampu melihat
Jika benar, bumi dan venus itu jauh kan? Berbeda pula
Lucunya kita justru memulai perkenalan kedua