Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label film. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Juni 2017

[REVIEW] Tiga Film Akhir Mei, Mana Terbaik?

Akhir Mei menjadi waktu banyak film apik mampir di layar bioskop Indonesia. Ada dua film Indonesia dengan cerita dan penggarapan yang cukup baik sehingga mengundang animo cukup luas. Sayang, saya belum menontonnya sampai sekarang, padahal jarang film Indonesia yang mampu bertahan dalam beberapa minggu film luar negeri yang sudah punya penggemar sendiri. Sempatnya, saya malah baru saja menonton 3 film dari dari luar negeri itu yang rata-rata mengambil genre fantasi dan superhero, dua diantaranya merupakan lanjutan atau pengembangan cerita dari film-filmn suksesnya terdahulu. Ini adalah sedikit catatan yang saya ingat, masih sebagai orang awam yang tidak terlalu mengikuti seri film sebelumya:

Minggu, 14 Mei 2017

[Review] Kartini : Perayaan dengan Airmata

Saya menangis untuk banyak hal, dimanapun airmata ini mau turun, termasuk di depan layar atau di hadapan buku. Airmata biasanya membuat saya lebih lama mengingat dan memikirkan apa yang saya lihat setelah semua halaman atau layar berubah jadi hitam. Baru-baru ini film Kartini lah sebabnya.

Rabu, 19 April 2017

[Review] Get Out : Standing Applause, Kemudian Bengong

Saya berulang kali pergi ke bioskop tanpa perencanaan pasti mau nonton apa, karena biasanya yang dipengenin banget malah ngga ditonton. Kali ini kejadian lagi, awalnya mau nonton Night Bus yang beberapa reviewnya sudah saya baca dan cukup membawa rasa penasaran. Sampai di bioskop dekat rumah, ternyata film itu ngga ditayangkan di sana. Mau pulang atau pindah bioskop yang lebih jauh ngga mungkin karena langit gelap banget kayak musuhnya ultramen mau datang. Akhirnya sepakat lah nonton ini karena udah tanggung ada di situ. Tanpa tau jalan cerita apalagi sempat lihat trailernya. Saya sepakat hanya karena pernah lihat sekilas genrenya thriller, ah masih berani lah pikir saya.

Sabtu, 08 April 2017

[Review] Danur : Usaha yang Perlu Diapresiasi


Sudah bukan rahasia, saya tidak pernah menjadi berani berhadapan dengan genre film horror. Apalagi horror Indonesia biasanya punya setan dengan rupa cukup mengerikan cenderung menjijkan. Tapi, beberapa bulan belakangan, ini adalah ketiga kalinya saya berhasil menyelesaikan tontonan yang musiknya aja bikin jerit-jerit. Alasannya, saya pede karena nggak akan jadi penakut gembel sendirian yang tiap beberapa menit kepingin jerit malah kadang jerit saya diwakilkan. Haha.

Danur merupakan film horror Indonesia pertama yang berhasil saya tamatkan setelah Mirror. Film ini diadaptasi dari sebuah buku dan ditulis dari kisah nyata, tentang seorang anak perempuan bernama Risa yang mendapatkan penglihatan lebih setelah tiup lilin di ulang tahun ke-8nya. Tradisi orang kesepian tiup lilin lalu mendapat sesuatu ini sepertinya sedang trend, tapi saya sarankan kalau kamu mau coba, tolong buat permohonan yang sangat spesifik. Jika tidak, kamu bisa lihat sendiri, kalau bukan goblin yang hidup abadi meski ganteng ya 3 bocah lucu tapi bukan manusia. Itu merepotkan, sangat.

Jumat, 18 November 2016

[Review] Dr. Strange, Film yang Jarang-Jarang


Review ini dibuat sebagai penonton yang benar-benar awam pengetahuannya  dan sering nonton tanpa liat trailer terlebih dulu. Bermula dari rajinnya ke bisokop dan download film setahun ini dan menimbulkan efek excited  tersendiri setelah film selesai tapi lupa lagi kalau ada yang cerita. Jadi kalau memang agak beda dari punya tetangga-tetangga sebelah ya maaf ya. Mata sama uang yang buat nonon kan juga ngga pinjem punya mereka.

Senin, 16 Mei 2016

Yang kamu lakukan itu jahat, Rangga

Banyak yang tak asing dengan sepotong kalimat ini, apalagi mereka yang telah menonton sekuel film Ada Apa Dengan Cinta. Termasuk juga saya, bahkan bagi saya ini adalah kalimat yang merangkum keseluruhan isi film. Mari lupakan meembahas serba-serbi film ini, secara keseluruhan saya mengapresiasi dengan baik adanya film ini meskipun ada beberapa hal yang kurang saya sukai. Tapi tulisan ini bukan tentang itu, ini tentang emosi dalam kalimat yang diucapkan Cinta, sang tokoh utama.