Napak tilas sebuah lisan yang berbicara lewat baris-baris kata tentang sebuah perjalanan
Selasa, 15 Agustus 2017
Senang
Minggu, 01 Januari 2017
Luka Kita Pada Masa Ini
Selasa, 13 Desember 2016
Ketika Kita
Selasa, 16 Agustus 2016
#ProjectBerdua : Aku, Kamu yang Tak Pernah Menjadi Kita
Minggu, 10 April 2016
Sudah malam
Tentang sesiangan yang teramat megah
Seperti bukan panggungku
Aku kelu
Padahal biasanya mulutku menyemburkan apapun, sekalipun hanya gerutu
Kau pasti tau
Kini sudah malam
Saatnya tak lagi memikirkan ketuntasan yang mengejar kata pasti
Esok saja masih ada kelebihan sepersekian detik untuk melanjutkan asa, katamu
Merebah pada pelukmu
Pulang
Permintaanmu hanya itu
Dan aku setuju
Jumat, 26 Februari 2016
Jika Rindu
Kemana seharusnya anakan sungai yang meluap ini beralamat?
Tak pernah ada cukup waktu untuk bersabar menemukan lautan kering menyisakan garam
Segala kenang tumpah ruah membanjiri jalan yang ditempeli tawa kita di hari kemarin
Tak ada sesal bila itu membawa aroma tubuhmu yang tak pernah berganti dalam ingatanku
Sulit untuk meminta rindu agar berhenti mengetuk-ngetuk
Maka ku bukakan pintu yang membawa dingin pada telapak kaki
Membiarkan ingatan tentang percakapan yang tak selesai diantara kita menyelesaikan kalimatnya sendiri
Aku menonton dengan kelu
Disini masa dorman bagi cerita bersamamu tak lagi berlagu
Akan menjadi panjang dan tak menemukan tetas benih seperti dalam cita-cita
Tak ada yang bisa berhitung berapa kali aku akan kembali dikunjungi
Aku sudah bersiap menampung semuanya sendiri
Bukan berlagak kuat menangkup bah
Aku hanya tak bisa lagi berjalan menujumu untuk pulang
Dan sebuah andai tak lagi mampu menjadi bintang terang
Senin, 08 Februari 2016
Menyurati Senja
#30HariMenulisSuratCinta
Dengan apa ku ketuk agar kamu datang?
Aku disini hampir lelah dengan hari yang hujan
Bukan tak mencintai, kamu selalu tau mereka datang berbarengan menutup banyak terang
Seperti milikmu yang aku rindu
Mencintai gelap tak sepenuhnya harus bersama kan?
Banyak yang mungkin mengabaikan kamu
Tapi aku berusaha tak sekalipun melakukannya
Sejak pertama kali kamu mengajakku berkenalan
Dengan merah, jingga juga keuunguan menghadap barat
Setelahnya, aku tau banyak hari yang harus ku tebus
Untuk hari-hari lengkap bersamamu yang urung kusadari
Sini senja,
Seperti biasa, ada luka-luka yang harus digelapkan lebih awal
Juga erang yang akan samar oleh semburatmu
Disurukkan padamu sebelum malam tau
Biar lelah sisanya kemudian diurus malam
Aku merindumu
Rabu, 19 Agustus 2015
Jangan sampai malam
Selasa, 30 Juni 2015
Tempat Sampah
Seberapa jauh cintanya?
Seberapa akrab?
Pada akhirnya diantarkannya kau pada peluk ku
Lebih sering tanpa mata yang harus berkaca-kaca
Menguar dalam rongga
Penuh gaungnya merayapi setiap sisi
Tak apa
Desah rintih bahkan amuk, hanya milik dengarku
Bersenandunglah dalam kidung laramu
Jika lagu-lagu mu kemudian diam
Tubuhmu endap
Aku menyimpan seluruhnya
Cerita masyhur hingga tangismu sendirian
Kemungkinan lain, masih saja ada yang coba memisahkan
Memeras sekali lagi
Katanya, kamu terlalu jelita
Apa aku terlalu buruk rupa?
Tak tau saja,
Hanya bersamaku, kau bisa diperebutkan
Senin, 22 Juni 2015
Anomali
Berbicara dengan ragamu
Meski bibir hanya menemukan punggung untuk pecah
Untuk sekejap tawa yang sudah
Hingga prosa hidup manusia berwarna ungu
Atau ceritamu yang hanya mampu tertangkap telinga dan pikirku satu-satu
Aku mampu
Menerima segala baikmu
Tanpa meninggalkan cara untuk mencari celahmu
Aku manusia, tak ingin seseorang berupa sempurna begitu saja
Terlebih kamu
Hanya untuk berpegang agar angin tak turut melayangkan rasa
Rasa yang menjauhkan dari nyata
Kamis, 18 Juni 2015
Menjadi Kuat
Datang lagi,
Gemanya lembut terdengar
Serupa pijar, satu-satu kemudian segala urusan menjadi terang
Sebab seringkali berbenah bukan perkara lumrah
Tapi waktu menjadi tau, bahwa ini adalah detaknya yang ditunggu
Ramadhan
Satu dua kali aku pernah meracau
Menjadi manusia kuat adalah tak mengungkung bebasnya manusia lain
Benar memang
Tapi kuat bukan hanya perkara aku saja
Kamu, juga kita
Kalau bukan karena cinta, tentu saja
Aku ingin menjadi kuat sendiri saja
Paling tidak hanya bersama adik kecilku yang tengah belajar meraba
Seberapa tegar ia bisa berjalan, tanpa berpegangan kala kita mesti berpapasan
Sulit?
Tentu, maka aku tau cintamu genap pada kami
Sehingga sudi pun kamu belajar, meski hanya lewat kisi
Membumikan hati untuk mengerti
Tak ada yang lebih hebat dari kemampuan memahami
Terimakasih tak mengizinkanku kuat sendiri
Membiarkanku mudah tanpa harus meminta
Karena kamu tau aku selalu menunggu
Dalam sebelas berbanding satu untuk bertemu
Dalam kurun yang sama
Aku pun berguru pada peduli mu
Untuk tak menjadikan celah dalam berbeda
Karena tak ada perintahNya untuk tak baik pada sesama
Senin, 30 Maret 2015
Bentuk Hati
Siapa pernah masuk dalam hatiku?
Kisahkan apa yang ada
Aku ingin melihat melalui mata juga kata
Bagaimana bisa memasukanmu yang besar dalam salahsatu ruang
Iya aku memang mendamba hatiku lapang
Tapi tetap saja seperti kamu, yang lain juga tak selalu ingin ada pada pijak yang sama
Sampai sini, aku hanya bisa merasa
Bagaimana sebuah ruang mengantar banyak rasa
Kamu kah itu? Berapa yang kamu sumbangkan? Satu atau sejuta?
Hati yang ini kadang ingin banyak bicara
Tapi tidak saat rongga terbuka, semuanya kelu
Sesekali waktu akhirnya menimbulkan suara
Lebih sering sumbang
Karena teriak terdengar cicit
Atau suka justru melontarkan duka
Keberadaan satu ruang baru sering menyulitkanmu bukan?
Hati suka berlebihan
Merelakan banyak ruang terkudeta
Menyesakkan himpit yang sudah menjepit
Baik, atas nama hati semoga maaf menjadi milikku
Tapi tak ada yang pernah benar benar pergi
Karena tak pernah ada yang mau menempati ruang berjejak
Beberapa yang tak terkunjungi memilih menepi
Kemudian kembali
Senin, 16 Maret 2015
Da aku mah apa atuh cuma anak Bekasi
Da aku mah apa gitu cuma anak Bekasi
yang adanya di ujung provinsi.
Tinggal di kota berumur lebih muda dari umur sendiri yang pembangunannya makin punya ciri.
Sentra niaga penyangga ibukota negeri
Delapan belas tahun ini, setelah sekian kali di bully baru sadar kalo kekayaan tak habis adalah milik semua penghuni
Mau tanya soal materi? Toleh saja kepala menghadap mall dan perumahan di tanah moyang yg tak terkenali, cari bagian yang tak berpenghuni meski cuma sesenti. Setiap pundi kami dikeruk oleh peminta-minta berdasi, tak pernah absen kami memberi. Bukankah kami begitu murah hati?
Kalau bicara budaya, tanyakan pada kami
Satu tak cukup membuat kami berdiri
Tubuh kami serupa perca warna-warni
Terjahit rapat melintang melalui banyak sisi
Tak ada yang menghakimi kepemilikan hakiki
Karena bertenggang lebih baik dari mencibir saudara sendiri
Da kalo di Bekasi mah, jauh, macet dan kotor katanya
Padahal kami cuma berusaha baik hati
Perintah Tuhan, maksudnya
Kasih jalan orang ibukota juga desa supaya tak melulu berada dalam tempurungnya, kalau begitu hitung saja berapa banyak jumlah kaki berodanya
Sedangkan tempat kami terhimpit, sempit
Toh setidaknya kami berusaha tak jadi tuan rumah yang pelit
Buktinya, tak cuma melintas. Kami berlapang sediakan lumbung
Bukan padi seperti Karawang, lebih seperti timbunan uang juga ampasnya
Pemiliknya seringkali bukan kami,
Tak jadi soal, selama kami masih bisa memberi
Memahami kepatriotan kami yang tak meminta ditulisi
Selamat ulangtahun Bekasi, terus ajarkan aku memberi tanpa mengharap. Setidaknya, dimana orang baik berkumpul tanganNya akan selalu siap melindungi.
Minggu, 25 Januari 2015
For the distances
Aku kerap lupa bahwa kamu juga ingin dicintai. Maaf aku sering merutuk karena hadirmu yang kadang tak masuk dalam daftar pinta.
Sekarang biarkan aku berterimakasih karena kau ada, karena bersamamu Tuhan titipkan sisi romantis dalam semesta untuk membuatku menjadi hambanNya yang beruntung.
Karena kamu ada, luka yang pernah ada terpelihara baik hingga mendekati sembuh
Karena kamu ada, ada rasa yang cukup dengan hati saja aku bercerita
Sabtu, 06 Desember 2014
rindu kata rindu
Ku kata rindu caramu mengabarkan rindu pada ujung ujung telinga dengan nada ceria
Cukupkah rindu membuatnya hadir meski sebisik?
Terlayangkan rindu ketika pandang beradu bayang tentang bagaimana rindu membuat kita hanya sama-sama saling menatap tanpa sedikitpun bait kata ada
Menyesakkan memang mengetahui rindumu adalah kata rindu
Rinduku pada rindu ketika bertemu adalah hilang segala resah yang dibawanya
Rinduku pada rindu membuatku tau detik juga tak ingin terabai ketika aku sibuk merindui rindu milik kita
Bagaimana rindu? Cukupkah mengejekku hingga tumpah risau ini pada dunia yang sering tak kentara?
Sabtu, 08 November 2014
Visualisasi semesta
Sekali ini aku berkaca pada arakan awan yang tak biasanya bergulung cepat. Aku bahkan tak sempat kabarkan cerita, lalu begitu saja semuanya jatuh.
Rupanya, semesta juga ingin bercerita atau sekedar memvisualisasikan rasa. Melalui kecup tetes yang datang meminta perhatian. Menepikan bingar agar ia terdengar, sekali saja pertemuannya dengan tanah ingin sekali dirayakan, katanya.
Aku mengangguk, berterimakasih dalam tetes yang lalu kusimpan. Tak usahlah kubagi, Tuhan mungkin isyaratkan terlalu remeh merapuh dalam pertemuan. Biar semsesta saja yang lengkapkan
Sabtu, 11 Oktober 2014
selarik kebelakang wajahmu dulu dan kini
Kamis, 07 Agustus 2014
Tahun kedua
4 Agustus 2014
Pernah kita lalui masa saling tertawa Memandang dua dunia di belakang punggung lawan bicara saat kita bertemu muka
Menjadikannya perlahan satu rasa sama rata
Pernah kita menerbangkan asa yang berbeda
Seringkali orang kata tak berpikir kita tentang berbagai resikonya
Lalu yang kita pinta hanya bagaimana DIA merestuinya
Karena kita percaya semesta selalu punya ruang bagi kita
Pernah juga kita tak saling bicara
Padahal rindu ada dari mega hingga senja
Membiarkan pesan-pesan tak terbaca
Tapi tak bisa mengabaikan racauan di dunia maya
Ah, rasi bintang apa yang menaungi kita sebenarnya?
Karena rasanya setiap perjalanan selalu ada yang istimewa
Satu dua kali kita pernah mempecundangi apa yang kita sebut bersama
Selebihnya mensyukuri rasanya lebih pas bagi kita
Kita tetap dua kepala dan rasa yang berbeda
Bertahun-tahun nanti pun tak ada yang bisa mengubahnya
Memberi warna juga detak pada langkah yang akan semakin sama
Meski pengungkapan kerap kali berbeda
Bisa jadi indah ataupun sebaliknya
Tanpa banyak cara, kita tau bahwa kita saling cinta
Selamat berjumpa pada tahun yang kedua, selamat menikmati tahun-tahun berikutnya.
Dikutip dari note dengan perubahan seperlunya :)
Kamis, 24 Juli 2014
Untuk satu di tahun lalu
Ajarkan saya untuk berani
Ketika satu kejahatan membuat saya begitu ngeri melanjutkan langkah
Meski luka saya tekan kuat-kuat agar tak terasa
Tak pernah kubuka
Selain pada kejadiannya di satu waktu yang nyaris sama di masa lalu
Hati berkata bahwa ini caraNya mencintai
Nalar berdiskusi bahwa yang hilang takkan bisa kembali
Hanya akan ada yang baru yang datang lagi
Aku percaya
Tapi jelaskan maknanya
Mengapa pada genap di satu tahunnya
Hal itu terus menjadi bayang?
Bukankah mega sudah ribuan hari menyiram sinar lalu bulan tak alfa menenangkan?
Tak ikhlas kah artinya? Atau aku yang tak mau mengampuni?
Rabu, 04 Juni 2014
Bauty reminder
Jika bukan masa lalu yang membiarkan kita tenggelam karena diam
Ada saja arus yang terlihat tenang, menyeret kita pada haluan yang bukan kita impikan
Karena sebuah kesalahan
Karena sebuah kealpaan
Karena kekufuran
Karena kebodohan
Karena kesdaran yang dilupakan
Karena tanda yang kerap kali diabaikan
Bahkan ketika sudah ada peringatan