Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Agustus 2017

Senang

Aku tak segan untuk pulang membawa senyuman
Pada diksi-diksimu yang tak beralamatkan
Biarkan
Aku lupa mendaftar satu keahlian; gadis yang mampu tersipu-sipu

Senja di petang lalu kau dijelang
Tak ada namaku terpampang
Memang segala bahagia sepatutnya mampu dicicipi sebanyak mungkin orang
Tapi aku tak keberatan menelannya malam ini untuk tidur yang tenang

Di bingar senja aku menolak untuk diam dilucuti malam
Ternyata padamulah alasanku tenggelam

Minggu, 01 Januari 2017

Luka Kita Pada Masa Ini

Masa mengantarkan pada medan penuh luka
Ada yang sengaja dibuka menganga
Bangga mengiris-iris rumpun yang sakit jika dibelah
Menyatukan seruan-seruan marah
Ketakutan pada hal-hal yang tak perlu  setelah itu
Lalu tangis ini milik siapa?

Sepanjang tahun
Kata membunuh banyak rasa percaya
Yang diam, pelan-pelan terbunuh jiwanya
Menelan segala pahit yang disuburkan hujan hujatan
Menjangkarkan benci entah hingga nanti berapa turunan
Tanpa tau sebab juga alasan
Bisakah hari ini kata sudah menjadi sekali lagi awal mula?



Selasa, 13 Desember 2016

Ketika Kita

Tidak bisa tidak,
Saat langkah setuju untuk berpadu 
Akan ada lebih dari sebuah seteru
Aku setuju
Bukan untuk beradu, maksudku
Tapi memulai jalan baru
Adalah perkara berani maju, atas apa tujuan yang tak lagi diperjuangkan sendirian
Ada hal-hal di luar nalar, atau kemungkinan yang pernah terpikirkan
Tinggal menunggu giliran
Siapa yang akan terheran-heran lebih dulu
Kemudian menahan, bertahan
Karena semua bisa dipertimbangkan
Seperti semua awal mula,
Bagaimana setiap kata terawat dalam pendengaran
Seperti satu-satu harapan yang dilayangkan dan tidak untuk begitu saja dilupakan

Selasa, 16 Agustus 2016

#ProjectBerdua : Aku, Kamu yang Tak Pernah Menjadi Kita




Kita sudah berkenalan
Bertahun-tahun setelah ibu mengejakan bagaimana memanggilmu
Apa kamu suka ku sebut dengan bahasa ibu?
Karena buatku hanya itu yang dapat mendekatkan
Aku tumbuh dengan sekian jarak yang dicipta biru, hijau, dan kelabu

Kamu yang berada di antara
Pada penanda damai dan juga berani yang tak mengenal mundur
Lalu kamu?

Minggu, 10 April 2016

Sudah malam

Aku berhitung satu-satu
Tentang sesiangan yang teramat megah
Seperti bukan panggungku
Aku kelu
Padahal biasanya mulutku menyemburkan apapun, sekalipun hanya gerutu
Kau pasti tau

Kini sudah malam
Saatnya tak lagi memikirkan ketuntasan yang mengejar kata pasti
Esok saja masih ada kelebihan sepersekian detik untuk melanjutkan asa, katamu
Merebah pada pelukmu
Pulang
Permintaanmu hanya itu
Dan aku setuju

Jumat, 26 Februari 2016

Jika Rindu

Kemana seharusnya anakan sungai yang meluap ini beralamat?
Tak pernah ada cukup waktu untuk bersabar menemukan lautan kering menyisakan garam
Segala kenang tumpah ruah membanjiri jalan yang ditempeli tawa kita di hari kemarin
Tak ada sesal bila itu membawa aroma tubuhmu yang tak pernah berganti dalam ingatanku

Sulit untuk meminta rindu agar berhenti mengetuk-ngetuk
Maka ku bukakan pintu yang membawa dingin pada telapak kaki
Membiarkan ingatan tentang percakapan yang tak selesai diantara kita menyelesaikan kalimatnya sendiri
Aku menonton dengan kelu
Disini masa dorman bagi cerita bersamamu tak lagi berlagu
Akan menjadi panjang dan tak menemukan tetas benih seperti dalam cita-cita

Tak ada yang bisa berhitung berapa kali aku akan kembali dikunjungi
Aku sudah bersiap menampung semuanya sendiri
Bukan berlagak kuat menangkup bah
Aku hanya tak bisa lagi berjalan menujumu untuk pulang
Dan sebuah andai tak lagi mampu menjadi bintang terang

Senin, 08 Februari 2016

Menyurati Senja

#30HariMenulisSuratCinta
Dengan apa ku ketuk agar kamu datang?
Aku disini hampir lelah dengan hari yang hujan
Bukan tak mencintai, kamu selalu tau mereka datang berbarengan menutup banyak terang
Seperti milikmu yang aku rindu
Mencintai gelap tak sepenuhnya harus bersama kan?

Banyak yang mungkin mengabaikan kamu
Tapi aku berusaha tak sekalipun melakukannya
Sejak pertama kali kamu mengajakku berkenalan
Dengan merah, jingga juga keuunguan menghadap barat
Setelahnya, aku tau banyak hari yang harus ku tebus
Untuk hari-hari lengkap bersamamu yang urung kusadari

Sini senja,
Seperti biasa, ada luka-luka yang harus digelapkan lebih awal
Juga erang yang akan samar oleh semburatmu
Disurukkan padamu sebelum malam tau
Biar lelah sisanya kemudian diurus malam
Aku merindumu

Rabu, 19 Agustus 2015

Jangan sampai malam

Benarkah tak cukup yang pagi sampaikan? 
Sampai malam harus menungguimu berkata-kata
Padahal kita bertemu di banyak terik siang
Mimpi-mimpi naik ke langit sudah lewat deru napas yang menguap 
Tinggi sekali
Kau tau itu

Selasa, 30 Juni 2015

Tempat Sampah

Seberapa penting?
Seberapa jauh cintanya?
Seberapa akrab?
Pada akhirnya diantarkannya kau pada peluk ku
Lebih sering tanpa mata yang harus berkaca-kaca
Seluruh kisah dan saripati  kepunyaanmu, dulu
Menguar dalam rongga
Penuh gaungnya merayapi setiap sisi
Tak apa
Desah rintih bahkan amuk, hanya milik dengarku
Bersenandunglah dalam kidung laramu
Tak ada yang lebih lekat dengan tabah kecuali aku, kau tau?
Jika lagu-lagu mu kemudian diam
Tubuhmu endap
Aku menyimpan seluruhnya
Cerita masyhur hingga tangismu sendirian
Kemungkinan lain, masih saja ada yang coba memisahkan
Memeras sekali lagi
Katanya, kamu terlalu jelita
Apa aku terlalu buruk rupa?
Tak tau saja,
Hanya bersamaku, kau bisa diperebutkan

Senin, 22 Juni 2015

Anomali

Tadinya mudah,
Berbicara dengan ragamu
Meski bibir hanya menemukan punggung untuk pecah
Untuk sekejap tawa yang sudah
Hingga prosa hidup manusia berwarna ungu
Atau ceritamu yang hanya mampu tertangkap telinga dan pikirku satu-satu
Aku mampu
Menerima segala baikmu
Tanpa meninggalkan cara untuk mencari celahmu
Aku manusia, tak ingin seseorang berupa sempurna begitu saja
Terlebih kamu
Hanya untuk berpegang agar angin tak turut melayangkan rasa
Rasa yang menjauhkan dari nyata

Kamis, 18 Juni 2015

Menjadi Kuat

Datang lagi,
Gemanya lembut terdengar
Serupa pijar, satu-satu kemudian segala urusan menjadi terang
Sebab seringkali berbenah bukan perkara lumrah
Tapi waktu menjadi tau, bahwa ini adalah detaknya yang ditunggu
Ramadhan

Satu dua kali aku pernah meracau
Menjadi manusia kuat adalah tak mengungkung bebasnya manusia lain
Benar memang
Tapi kuat bukan hanya perkara aku saja
Kamu, juga kita

Kalau bukan karena cinta, tentu saja
Aku ingin menjadi kuat sendiri saja
Paling tidak hanya bersama adik kecilku yang tengah belajar meraba
Seberapa tegar ia bisa berjalan, tanpa berpegangan kala kita mesti berpapasan

Sulit?
Tentu, maka aku tau cintamu genap pada kami
Sehingga sudi pun kamu belajar, meski hanya lewat kisi
Membumikan hati untuk mengerti
Tak ada yang lebih hebat dari kemampuan memahami

Terimakasih tak mengizinkanku kuat sendiri
Membiarkanku mudah tanpa harus meminta
Karena kamu tau aku selalu menunggu
Dalam sebelas berbanding satu untuk bertemu

Dalam kurun yang sama
Aku pun berguru pada peduli mu
Untuk tak menjadikan celah dalam berbeda
Karena tak ada perintahNya untuk tak baik pada sesama

Senin, 30 Maret 2015

Bentuk Hati

Siapa pernah masuk dalam hatiku?
Kisahkan apa yang ada
Aku ingin melihat melalui mata juga kata
Bagaimana bisa memasukanmu yang besar dalam salahsatu ruang
Iya aku memang mendamba hatiku lapang
Tapi tetap saja seperti kamu, yang lain juga tak selalu ingin ada pada pijak yang sama

Sampai sini, aku hanya bisa merasa
Bagaimana sebuah ruang mengantar banyak rasa
Kamu kah itu? Berapa yang kamu sumbangkan? Satu atau sejuta?

Hati yang ini kadang ingin banyak bicara
Tapi tidak saat rongga terbuka, semuanya kelu
Sesekali waktu akhirnya menimbulkan suara
Lebih sering sumbang
Karena teriak terdengar cicit
Atau suka justru melontarkan duka

Keberadaan satu ruang baru sering menyulitkanmu bukan?
Hati suka berlebihan
Merelakan banyak ruang terkudeta
Menyesakkan himpit yang sudah menjepit
Baik, atas nama hati semoga maaf menjadi milikku

Tapi tak ada yang pernah benar benar pergi
Karena tak pernah ada yang mau menempati ruang berjejak
Beberapa yang tak terkunjungi memilih menepi
Kemudian kembali

Senin, 16 Maret 2015

Da aku mah apa atuh cuma anak Bekasi


Da aku mah apa gitu cuma anak Bekasi
yang adanya di ujung provinsi.
Tinggal di kota berumur lebih muda dari umur sendiri yang pembangunannya makin punya ciri.

Sentra niaga penyangga ibukota negeri

Delapan belas tahun ini, setelah sekian kali di bully baru sadar kalo kekayaan tak habis adalah milik semua penghuni

Mau tanya soal materi? Toleh saja kepala menghadap mall dan perumahan di tanah moyang yg tak terkenali, cari bagian yang tak berpenghuni meski cuma sesenti. Setiap pundi kami dikeruk oleh peminta-minta berdasi, tak pernah absen kami memberi. Bukankah kami begitu murah hati?

Kalau bicara budaya, tanyakan pada kami
Satu tak cukup membuat kami berdiri
Tubuh kami serupa perca warna-warni
Terjahit rapat melintang melalui banyak sisi
Tak ada yang menghakimi kepemilikan hakiki
Karena bertenggang lebih baik dari mencibir saudara sendiri

Da kalo di Bekasi mah, jauh, macet dan kotor katanya
Padahal kami cuma berusaha baik hati
Perintah Tuhan, maksudnya
Kasih jalan orang ibukota juga desa supaya tak melulu berada dalam tempurungnya, kalau begitu hitung saja berapa banyak jumlah kaki berodanya
Sedangkan tempat kami terhimpit, sempit
Toh setidaknya kami berusaha tak jadi tuan rumah yang pelit
Buktinya, tak cuma melintas. Kami berlapang sediakan lumbung
Bukan padi seperti Karawang, lebih seperti timbunan uang juga ampasnya
Pemiliknya seringkali bukan kami,
Tak jadi soal, selama kami masih bisa memberi
Memahami kepatriotan kami yang tak meminta ditulisi

Selamat ulangtahun Bekasi, terus ajarkan aku memberi tanpa mengharap. Setidaknya, dimana orang baik berkumpul tanganNya akan selalu siap melindungi.

Minggu, 25 Januari 2015

For the distances

Dear jarak,
Aku kerap lupa bahwa kamu juga ingin dicintai. Maaf aku sering merutuk karena hadirmu yang kadang tak masuk dalam daftar pinta.
Sekarang biarkan aku berterimakasih karena kau ada, karena bersamamu Tuhan titipkan sisi romantis dalam semesta untuk membuatku menjadi hambanNya yang beruntung.
Karena kamu ada, luka yang pernah ada terpelihara baik hingga mendekati sembuh
Karena kamu ada, ada rasa yang cukup dengan hati saja aku bercerita
                                            Big fan of u,
                                                     Riz

Sabtu, 06 Desember 2014

rindu kata rindu

Ku kata rindu caramu mengabarkan rindu pada ujung ujung telinga dengan nada ceria
Cukupkah rindu membuatnya hadir meski sebisik?
Terlayangkan rindu ketika pandang beradu bayang tentang bagaimana rindu membuat kita hanya sama-sama saling menatap tanpa sedikitpun bait kata ada
Menyesakkan memang mengetahui rindumu adalah kata rindu
Rinduku pada rindu ketika bertemu adalah hilang segala resah yang dibawanya
Rinduku pada rindu membuatku tau detik juga tak ingin terabai ketika aku sibuk merindui rindu milik kita
Bagaimana rindu? Cukupkah mengejekku hingga tumpah risau ini pada dunia yang sering tak kentara?

Sabtu, 08 November 2014

Visualisasi semesta

Sekali ini aku berkaca pada arakan awan yang tak biasanya bergulung cepat. Aku bahkan tak sempat kabarkan cerita, lalu begitu saja semuanya jatuh.
Rupanya, semesta juga ingin bercerita atau sekedar memvisualisasikan rasa. Melalui kecup tetes yang datang meminta perhatian. Menepikan bingar agar ia terdengar, sekali saja pertemuannya dengan tanah ingin sekali dirayakan, katanya.
Aku mengangguk, berterimakasih dalam tetes yang lalu kusimpan. Tak usahlah kubagi, Tuhan mungkin isyaratkan terlalu remeh merapuh dalam pertemuan. Biar semsesta saja yang lengkapkan

Sabtu, 11 Oktober 2014

selarik kebelakang wajahmu dulu dan kini



Rasanya aku masih terus rindu
Maka izinkan sekali lagi mengenang wajahmu sejak pertama kita bertemu
Apakah kamu juga rindu?
Atau justru telah lupa pada wajahmu?

Kamis, 07 Agustus 2014

Tahun kedua

4 Agustus 2014
Pernah kita lalui masa saling tertawa Memandang dua dunia di belakang punggung lawan bicara saat kita bertemu muka
Menjadikannya perlahan satu rasa sama rata

Pernah kita menerbangkan asa yang berbeda
Seringkali orang kata tak berpikir kita tentang berbagai resikonya
Lalu yang kita pinta hanya bagaimana DIA merestuinya
Karena kita percaya semesta selalu punya ruang bagi kita

Pernah juga kita tak saling bicara
Padahal rindu ada dari mega hingga senja
Membiarkan pesan-pesan tak terbaca
Tapi tak bisa mengabaikan racauan di dunia maya

Ah, rasi bintang apa yang menaungi kita sebenarnya?
Karena rasanya setiap perjalanan selalu ada yang istimewa

Satu dua kali kita pernah mempecundangi apa yang kita sebut bersama
Selebihnya mensyukuri rasanya lebih pas bagi kita

Kita tetap dua kepala dan rasa yang berbeda
Bertahun-tahun nanti pun tak ada yang bisa mengubahnya
Memberi warna juga detak pada langkah yang akan semakin sama

Meski pengungkapan kerap kali berbeda
Bisa jadi indah ataupun sebaliknya
Tanpa banyak cara, kita tau bahwa kita saling cinta

                            Selamat berjumpa pada tahun yang kedua, selamat menikmati tahun-tahun berikutnya.

Dikutip dari note dengan perubahan seperlunya :)

Kamis, 24 Juli 2014

Untuk satu di tahun lalu

Ajarkan saya untuk berani
Ketika satu kejahatan membuat saya begitu ngeri melanjutkan langkah
Meski luka saya tekan kuat-kuat agar tak terasa

Tak pernah kubuka
Selain pada kejadiannya di satu waktu yang nyaris sama di masa lalu
Hati berkata bahwa ini caraNya mencintai
Nalar berdiskusi bahwa yang hilang takkan bisa kembali
Hanya akan ada yang baru yang datang lagi

Aku percaya

Tapi jelaskan maknanya
Mengapa pada genap di satu tahunnya
Hal itu terus menjadi bayang?
Bukankah mega sudah ribuan hari menyiram sinar lalu bulan tak alfa menenangkan?
Tak ikhlas kah artinya? Atau aku yang tak mau mengampuni?

Rabu, 04 Juni 2014

Bauty reminder

Entah bagaimana caranya, terkadang waktu melenakan kita
Jika bukan masa lalu yang membiarkan kita tenggelam karena diam
Ada saja arus yang terlihat tenang, menyeret kita pada haluan yang bukan kita impikan
Karena sebuah kesalahan
Karena sebuah kealpaan
Karena kekufuran
Karena kebodohan
Karena kesdaran yang dilupakan
Karena tanda yang kerap kali diabaikan
Bahkan ketika sudah ada peringatan
Dan semoga kali ini aku belum terlambat