Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label review. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Agustus 2017

Berlabuh di Senin Malam

Yogyakarta mengagumkan, banyak orang tau ini kan? Sebut saja kamu suka apa, maka rasanya kamu akan menemukan orang yang sama dan tempat untuk menumpahkannya. Karena ini lah, berada di tempat ini membuat perjalanan saya semakin jauh sekaligus ingin kembali secepatnya. Kapanpun saya tak di sini, kaki saya harus sandar di sebuah tempat setiap senin malam.
                                

Sabtu, 03 Juni 2017

[REVIEW] Tiga Film Akhir Mei, Mana Terbaik?

Akhir Mei menjadi waktu banyak film apik mampir di layar bioskop Indonesia. Ada dua film Indonesia dengan cerita dan penggarapan yang cukup baik sehingga mengundang animo cukup luas. Sayang, saya belum menontonnya sampai sekarang, padahal jarang film Indonesia yang mampu bertahan dalam beberapa minggu film luar negeri yang sudah punya penggemar sendiri. Sempatnya, saya malah baru saja menonton 3 film dari dari luar negeri itu yang rata-rata mengambil genre fantasi dan superhero, dua diantaranya merupakan lanjutan atau pengembangan cerita dari film-filmn suksesnya terdahulu. Ini adalah sedikit catatan yang saya ingat, masih sebagai orang awam yang tidak terlalu mengikuti seri film sebelumya:

Minggu, 14 Mei 2017

[Review] Kartini : Perayaan dengan Airmata

Saya menangis untuk banyak hal, dimanapun airmata ini mau turun, termasuk di depan layar atau di hadapan buku. Airmata biasanya membuat saya lebih lama mengingat dan memikirkan apa yang saya lihat setelah semua halaman atau layar berubah jadi hitam. Baru-baru ini film Kartini lah sebabnya.

Rabu, 19 April 2017

[Review] Get Out : Standing Applause, Kemudian Bengong

Saya berulang kali pergi ke bioskop tanpa perencanaan pasti mau nonton apa, karena biasanya yang dipengenin banget malah ngga ditonton. Kali ini kejadian lagi, awalnya mau nonton Night Bus yang beberapa reviewnya sudah saya baca dan cukup membawa rasa penasaran. Sampai di bioskop dekat rumah, ternyata film itu ngga ditayangkan di sana. Mau pulang atau pindah bioskop yang lebih jauh ngga mungkin karena langit gelap banget kayak musuhnya ultramen mau datang. Akhirnya sepakat lah nonton ini karena udah tanggung ada di situ. Tanpa tau jalan cerita apalagi sempat lihat trailernya. Saya sepakat hanya karena pernah lihat sekilas genrenya thriller, ah masih berani lah pikir saya.

Sabtu, 08 April 2017

[Review] Danur : Usaha yang Perlu Diapresiasi


Sudah bukan rahasia, saya tidak pernah menjadi berani berhadapan dengan genre film horror. Apalagi horror Indonesia biasanya punya setan dengan rupa cukup mengerikan cenderung menjijkan. Tapi, beberapa bulan belakangan, ini adalah ketiga kalinya saya berhasil menyelesaikan tontonan yang musiknya aja bikin jerit-jerit. Alasannya, saya pede karena nggak akan jadi penakut gembel sendirian yang tiap beberapa menit kepingin jerit malah kadang jerit saya diwakilkan. Haha.

Danur merupakan film horror Indonesia pertama yang berhasil saya tamatkan setelah Mirror. Film ini diadaptasi dari sebuah buku dan ditulis dari kisah nyata, tentang seorang anak perempuan bernama Risa yang mendapatkan penglihatan lebih setelah tiup lilin di ulang tahun ke-8nya. Tradisi orang kesepian tiup lilin lalu mendapat sesuatu ini sepertinya sedang trend, tapi saya sarankan kalau kamu mau coba, tolong buat permohonan yang sangat spesifik. Jika tidak, kamu bisa lihat sendiri, kalau bukan goblin yang hidup abadi meski ganteng ya 3 bocah lucu tapi bukan manusia. Itu merepotkan, sangat.

Jumat, 18 November 2016

[Review] Dr. Strange, Film yang Jarang-Jarang


Review ini dibuat sebagai penonton yang benar-benar awam pengetahuannya  dan sering nonton tanpa liat trailer terlebih dulu. Bermula dari rajinnya ke bisokop dan download film setahun ini dan menimbulkan efek excited  tersendiri setelah film selesai tapi lupa lagi kalau ada yang cerita. Jadi kalau memang agak beda dari punya tetangga-tetangga sebelah ya maaf ya. Mata sama uang yang buat nonon kan juga ngga pinjem punya mereka.

Kamis, 25 Agustus 2016

Kenyang dan Bahagia di Pasar Tradisional



Untuk kebanyakan perempuan, berbelanja adalah kegiatan yang menyenangkan meskipun barang-barang incaran tiap perempuan berbeda. Saya adalah salah satu perempuan yang menikmati kegiatan ini untuk mencari keperluan yang saya butuhkan. Bahkan dari daftar tempat favorit  saya, dua diantaranya adalah tempat untuk berbelanja yaitu toko buku dan supermarket bagian bahan pangan basah seperti daging dan buah.
Dari tempat kesukaan saya, kemudian muncul ajakan untuk menyambangai pasar tradisional di salah satu kabupaten di Jogja sewaktu saya menginap disana. Pertanyaan “mau ngapain sih?” langsung muncul ketika ajakan tersebut dilontarkan. Sebab, sejak kecil dan masih suka ikut ibu berbelanja di pasar saya pasti langsung meminta pulang apabila jajanan yang saya mau sudah didapat karena tidak tahan berjubelan dan becek di sekitaran pasar. Tapi demi jajanan-jajanan yang sudah lama tidak saya dengar namanya sebagai jawaban, saya nurut saja dibonceng dengan mata mengantuk.
Sampai di pasar dan parkir motor, saya sempat terdiam sebentar dan bertanya dalam hati apakah mereka salah tempat atau tidak. Karena bagian depan pasar terlihat besar dan bagus. Karena tidak tau apa-apa, mengekorlah saya ke tiga teman saya yang sudah lebih dulu jalan. Terlihat memang, bahwa pasar ini baru saja selesai dibangun. Bangunanannya apik dan besar untuk ukuran pasar yang berada di tengah kabupaten.  Lewat bagian depan, saya menggumam paling hanya bagian depan yang dibuat bagus.

Senin, 16 Mei 2016

Yang kamu lakukan itu jahat, Rangga

Banyak yang tak asing dengan sepotong kalimat ini, apalagi mereka yang telah menonton sekuel film Ada Apa Dengan Cinta. Termasuk juga saya, bahkan bagi saya ini adalah kalimat yang merangkum keseluruhan isi film. Mari lupakan meembahas serba-serbi film ini, secara keseluruhan saya mengapresiasi dengan baik adanya film ini meskipun ada beberapa hal yang kurang saya sukai. Tapi tulisan ini bukan tentang itu, ini tentang emosi dalam kalimat yang diucapkan Cinta, sang tokoh utama.

Jumat, 19 Juni 2015

Ayah - Andrea Hirata : Berjanji Membacanya Lagi

Membaca karyanya dalam bentuk asli tanpa perantara adalah hal yang seringkali saya hindari. Sejak terakhir kali saya menggebu membaca karyanya, Laskar Pelangi, saya kemudian hanya berani mengintip sastra yang ia ciptakan lewat sudut pandang orang lain yang lebih berani membaca atau paling mentok menikmatinya dalam bentuk visual, film yang diadaptasi dari beberapa miliknya.
Alasannya, saya tak ingin stuck di satu buku fiksi yang sama untuk waktu yang cukup lama karena banyak yang harus diimajinasikan ditambah memahami bahasa yang jarang saya temukan di buku lain. Intinya, saya masih jadi pembaca yang malas.
Namun akhirnya toh saya luluh juga pada buku ini karena perjuangan teman baik saya mendapatkan buku dan tanda tangan penulisnya sampai tercetak dua di bukunya. Iya, saya hanya pinjam kali ini. Judulnya yang memakai kata "Ayah" sangat familiar tak seperti novelnya yang lain juga membuat saya jumawa berani untuk membaca. Bahkan di tengah minggu Ujian Akhir Semester yang harus saya jalani! Paling ceritanya tak terlalu berat dan bisa dijadikan selingan membaca materi UAS, pikir saya waktu itu.
Bisa ditebak, dugaan saya meleset. Andrea Hirata tetaplah seorang penulis yang rumit dan serius, mengingat proses setiap bukunya adalah hasil riset yang amat panjang untuk sebuah karya fiksi. Tak biasa. Teringat membaca Laskar Pelangi, saya membutuhkan satu minggu untuk menghabiskannya, membaca novel ini saya harus merelakan 4 hari untuk tuntas membaca novel setebal 400an halaman ini. Bukan sebuah kemajuan saya rasa, karena ini tuntutan akibat buku ini hanyalah pinjaman seorang teman sehingga banyak bagian yang saya lewatkan terutama bagian sajak-sajak tokoh utama, sang ayah dan anaknya yang terwarisi kemampuan tersebut, demi bisa menyelesaikan novel yang memiliki alur cerita maju-mundur ini.
Seperti laskar pelangi, buku ini mengambil lokasi di Belitong dalam gambaran krisis setelah masa jayanya sebagai penghasil timah. Bertokoh utama juga sama, seorang laki-laki. Bedanya bukan lagi anak-anak, tapi bujang yang jatuh cinta mati-matian pada pandangan pertamanya sepanjang hidup, Sabari namanya. Tentu saja, tokoh ini ditemani sahabat baiknya. Dua orang dengan seluruh gambaran keunikannya akibat prinsip hidup hingga lingkungan dan budaya yang membentuk mereka bertiga. Dalam segala musim, ide, duka maupun suka.
Tak hanya sang tokoh utama juga kedua temannya, tokoh yang lewat dalam buku ini pun di deskripsikan dengan apik dan cukup rinci oleh si empu kisah, dalam sudut pandangnya. Sudut pandang ke tiga. Satu tokoh, diceritakan rincinya dalam satu bab yang sama tapi tak jarang berlaku bertolak belakang di bab lain, kebanyakan cinta penyebabnya.
Ini bukan novel roman bagi saya meski penuh puisi dan jungkir balik kehidupan nyaris setiap tokoh, bukan hanya tokoh utama karena cinta dari bab pertama hingga akhir. Ini fiksi dengan humor cerdas, kaya kearifan lokal juga sejarah sekaligus naif, untuk saya sendiri.
Kalau om Hirata menginginkan saya menangis di akhir cerita, ekspresi saya tetap sama Om. Mengerutkan kening dan berjanji untuk kembali membaca buku ini. Karena buku ini sukses membuat saya konsentrasi sepanjang diksi hanya agar saya mengerti setiap kejutan dari urutan kisah yang harus saya susun sendiri setiap selesai membaca satu bab. Tambahan kerutan, beberapa puisi yang sempat terbaca dan sebutan dalam bahasa daerah yang tak terunut dalam catatan kaki.

Rabu, 10 Juni 2015

Laporan Genetika

sumber
  
   Semester ini hampir saja usai, hanya menyisakan ujian akhir dan tugas-tugasnya yang tiba-tiba datang. Beberapa mata kuliah adalah mata kuliah prasayarat yang harus ditempuh berurutan dari semester sebelumnya jadi untuk menjalaninya saya tak begitu merasa kaget. Beberapa yang lain masih benar-benar baru untuk dipelajari, walaupun pernah saya dapatkan di masa SMP atau SMA. seperti kata orang, kuliah tentu saja beda.
   Salah satu yang berbeda adalah mata kuliah Genetika yang saya ambil semester ini. Jelas, bukan benar-benar baru. Bahkan untuk kebanyakan teman yang kemudian tak melanjutkan di bidang yang sama seperti saya. Apa yang dituntut mata kuliah ini? Jawaban saya adalah ketelitian memberi tanggapan. Mungkin masih banyak hal yang bisa ditangkap, tapi saya memilih jawaban itu untuk merangkum mata kuliah satu ini. Sounds like politic? Biar saja :D

Senin, 23 Maret 2015

Saya hanya ingin menyalahkanmu

image by google

“Hari ini, saya janji sama kamu.
  Melindungi kamu.
 Sekarang dan nanti
 Saat hidup dan mati.”