![]() |
| source |
Napak tilas sebuah lisan yang berbicara lewat baris-baris kata tentang sebuah perjalanan
Sabtu, 21 Mei 2016
Makan Malam Terenak
Sabtu, 20 Februari 2016
Balasan
Selasa, 12 Mei 2015
Selamat yang Sedikit Terlambat
Senin, 16 Maret 2015
Da aku mah apa atuh cuma anak Bekasi
Da aku mah apa gitu cuma anak Bekasi
yang adanya di ujung provinsi.
Tinggal di kota berumur lebih muda dari umur sendiri yang pembangunannya makin punya ciri.
Sentra niaga penyangga ibukota negeri
Delapan belas tahun ini, setelah sekian kali di bully baru sadar kalo kekayaan tak habis adalah milik semua penghuni
Mau tanya soal materi? Toleh saja kepala menghadap mall dan perumahan di tanah moyang yg tak terkenali, cari bagian yang tak berpenghuni meski cuma sesenti. Setiap pundi kami dikeruk oleh peminta-minta berdasi, tak pernah absen kami memberi. Bukankah kami begitu murah hati?
Kalau bicara budaya, tanyakan pada kami
Satu tak cukup membuat kami berdiri
Tubuh kami serupa perca warna-warni
Terjahit rapat melintang melalui banyak sisi
Tak ada yang menghakimi kepemilikan hakiki
Karena bertenggang lebih baik dari mencibir saudara sendiri
Da kalo di Bekasi mah, jauh, macet dan kotor katanya
Padahal kami cuma berusaha baik hati
Perintah Tuhan, maksudnya
Kasih jalan orang ibukota juga desa supaya tak melulu berada dalam tempurungnya, kalau begitu hitung saja berapa banyak jumlah kaki berodanya
Sedangkan tempat kami terhimpit, sempit
Toh setidaknya kami berusaha tak jadi tuan rumah yang pelit
Buktinya, tak cuma melintas. Kami berlapang sediakan lumbung
Bukan padi seperti Karawang, lebih seperti timbunan uang juga ampasnya
Pemiliknya seringkali bukan kami,
Tak jadi soal, selama kami masih bisa memberi
Memahami kepatriotan kami yang tak meminta ditulisi
Selamat ulangtahun Bekasi, terus ajarkan aku memberi tanpa mengharap. Setidaknya, dimana orang baik berkumpul tanganNya akan selalu siap melindungi.
Jumat, 23 Mei 2014
Sekotak Puisi Dengan Pita yang Kubuat Sendiri
Ini malam -atau pagi- ketiga selepas tanggal lahirmu
Agak terlambat, bahkan aku membungkusnya diujung rasa kantukku
Tak apa, kata dan frasanya telah menari untukmu
Semoga baitnya mampu menerbitkan senyummu.
Ini tanggal yang sama di tahun ketiga
Dulu Bekasi, lalu Bandung-Jogja kini
Jika nalar kita atau mereka yang berbicara mungkin kita bisa satu kota lagi
Tapi tetap takdir Tuhan yang hakiki.
Aku senang, setidaknya kita masih mampu mensyukuri
Menjadikan jarak untuk menyeret salah satu dari kita (atau keduanya) untuk cepat kembali
Aku belum tau, mengapa sepertinya tanggalmu yang terlihat lebih istimewa
Dan delapan bulan setelahnya kerap kali terlewati
Benarkah rasaku? Ah, semoga tidak tentu saja
Apa ini karena ada tanggal yang sama di bulan lain yang dulu pernah sama-sama kita senyumi
Haha bagian itu mari kita tertawakan saja bersama
Lalu apalagi?
Oh iya, maukah kamu mengamini?
Selarik doa yang kususun dalam puisi, kapan lagi kamu bisa mendapati
Maka selelah atau sedingin apapun Bandung di minggu pagi, sempatkanlah berlari
Siapa tau di salahsatu putaran alun-alun sana ada mojang yang tersenyum manis pagi nanti
Jangan membantah, itu bisa saja terjadi!
Mungkin pula kah aku bermimpi?
Di satu hari nanti, kita akan berkabar melalui berlembar kartu pos yang berbeda rupa
Aku mau ke Turki tentu saja. Jadi kamu mau kemana?
Semoga tetap saling mengabari
Makin pandai pula lah mensyukuri dan jangan lupa berbagi
Ku berdoa persahabatan ini kan abadi
Seseorang yang bisa menjadi apapun yang kau mau, tentu dengan satu katakecuali :)
P.S. aku juga bermimpi satu dari kita mampu menghadiri wisuda yang lain nanti.
