Tampilkan postingan dengan label hadiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hadiah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Mei 2016

Makan Malam Terenak



source
Menjadi perantau bukan perkara mudah bagi saya. Banyak hal yang menjadi tiada atau berubah karena tidak lagi dikelilingi banyak anggota keluarga yang lain. Salah satu  yang ikut berubah adalah cara memperingati hari ulang tahun keluarga dekat atau bahkan saya sendiri. Saya memang tidak dibiasakan untuk merayakan ulang tahun dengan pesta atau seremonial berlebihan. Tetapi paling tidak, ulangtahun di keluarga kami berarti doa-doa di pergantian hari, makan keluarga dari masakkan ibu saya yang tidak ada duanya dengan beberapa teman dekat dan ditutup oleh traktiran si punya hajat yang berulangtahun. Iya, intinya ngumpul dan makan enak dan bebas tugas rumah selama sehari.

Sabtu, 20 Februari 2016

Balasan

Terimakasih untuk selalu ingat aku, bahkan menulisi namaku pada deskripsi untuk dirimu sendiri. Aku baru tau, sebegini besar ya ternyata arti ku di sederet nama temanmu yang bahkan banyak tak ku kenal.
Adalah aku yang bahkan jarang sekali membuka percakapan dalam pesan-pesan jarak jauh kita,

Selasa, 12 Mei 2015

Selamat yang Sedikit Terlambat

   Selamat ulangtahun untukmu, bu. Ucapan ini terlewat, tapi tidak dengan doa, kupastikan itu. Maaf aku yang terlalu sibuk berkeluh tentang setitik luka sehingga tak tepat waktu menuliskan ini, tak apa ya bu?
   Tahun ini adalah tahun keduaku tak berada tepat di sisimu untuk mengamini setiap senyum yang kau lambangkan syukur karena purna tugas di tahun yang lalu dan siap menjalani tahunmu yang baru. Pun tahun ini, justru aku yang kau hadiahkan dengan penawar terbaik sehingga aku tak rebah, ketika akhirnya hati ini benar-benar patah.

Senin, 16 Maret 2015

Da aku mah apa atuh cuma anak Bekasi


Da aku mah apa gitu cuma anak Bekasi
yang adanya di ujung provinsi.
Tinggal di kota berumur lebih muda dari umur sendiri yang pembangunannya makin punya ciri.

Sentra niaga penyangga ibukota negeri

Delapan belas tahun ini, setelah sekian kali di bully baru sadar kalo kekayaan tak habis adalah milik semua penghuni

Mau tanya soal materi? Toleh saja kepala menghadap mall dan perumahan di tanah moyang yg tak terkenali, cari bagian yang tak berpenghuni meski cuma sesenti. Setiap pundi kami dikeruk oleh peminta-minta berdasi, tak pernah absen kami memberi. Bukankah kami begitu murah hati?

Kalau bicara budaya, tanyakan pada kami
Satu tak cukup membuat kami berdiri
Tubuh kami serupa perca warna-warni
Terjahit rapat melintang melalui banyak sisi
Tak ada yang menghakimi kepemilikan hakiki
Karena bertenggang lebih baik dari mencibir saudara sendiri

Da kalo di Bekasi mah, jauh, macet dan kotor katanya
Padahal kami cuma berusaha baik hati
Perintah Tuhan, maksudnya
Kasih jalan orang ibukota juga desa supaya tak melulu berada dalam tempurungnya, kalau begitu hitung saja berapa banyak jumlah kaki berodanya
Sedangkan tempat kami terhimpit, sempit
Toh setidaknya kami berusaha tak jadi tuan rumah yang pelit
Buktinya, tak cuma melintas. Kami berlapang sediakan lumbung
Bukan padi seperti Karawang, lebih seperti timbunan uang juga ampasnya
Pemiliknya seringkali bukan kami,
Tak jadi soal, selama kami masih bisa memberi
Memahami kepatriotan kami yang tak meminta ditulisi

Selamat ulangtahun Bekasi, terus ajarkan aku memberi tanpa mengharap. Setidaknya, dimana orang baik berkumpul tanganNya akan selalu siap melindungi.

Jumat, 23 Mei 2014

Sekotak Puisi Dengan Pita yang Kubuat Sendiri

Ini malam -atau pagi- ketiga selepas tanggal lahirmu
Agak terlambat, bahkan aku membungkusnya diujung rasa kantukku
Tak apa, kata dan frasanya telah menari untukmu
Semoga baitnya mampu menerbitkan senyummu.

Ini tanggal yang sama di tahun ketiga
Dulu Bekasi, lalu Bandung-Jogja kini
Jika nalar kita atau mereka yang berbicara mungkin kita bisa satu kota lagi
Tapi tetap takdir Tuhan yang hakiki.
Aku senang, setidaknya kita masih mampu mensyukuri
Menjadikan jarak untuk menyeret salah satu dari kita (atau keduanya) untuk cepat kembali

Aku belum tau, mengapa sepertinya tanggalmu yang terlihat lebih istimewa
Dan delapan bulan setelahnya kerap kali terlewati
Benarkah rasaku? Ah, semoga tidak tentu saja
Apa ini karena ada tanggal yang sama di bulan lain yang dulu pernah sama-sama kita senyumi
Haha bagian itu mari kita tertawakan saja bersama

Lalu apalagi?
Oh iya, maukah kamu mengamini?
Selarik doa yang kususun dalam puisi, kapan lagi kamu bisa mendapati
Maka selelah atau sedingin apapun Bandung di minggu pagi, sempatkanlah berlari
Siapa tau di salahsatu putaran alun-alun sana ada mojang yang tersenyum manis pagi nanti
Jangan membantah, itu bisa saja terjadi!

Mungkin pula kah aku bermimpi?
Di satu hari nanti, kita akan berkabar melalui berlembar kartu pos yang berbeda rupa
Aku mau ke Turki tentu saja. Jadi kamu mau kemana?
Semoga tetap saling mengabari
Makin pandai pula lah mensyukuri dan jangan lupa berbagi
Ku berdoa persahabatan ini kan abadi

                           Seseorang yang bisa menjadi apapun yang kau mau, tentu dengan satu katakecuali    :)

P.S. aku juga bermimpi satu dari kita mampu menghadiri wisuda yang lain nanti.