Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 November 2017

Tentang Tulah yang Disyukuri

Saya mau mebuat pengakuan. Ternyata saya bisa menjadi pengagum sesuatu yang hidup dengan cukup ekpresif seperti orang kebanyakan. Sebab, sebelumnya saya berkeras tak mengagumi siapapun selain kedua orang tua saya. Pengakuan ini mendesak untuk diumumkan, setelah patah hati kedua. Iya, gengsi saya sebesar itu sebagai orang yang terlahir dengan zodiak Capricorn dan bergolongan darah A. Hubungannya apa, terserah kamu saja.
Rara Sekar dan Ananda Badudu

Patah hati ditinggal idola kali pertama adalah ketika orang-orang memberi tahu bahwa Banda Neira pamit. Bubar. Diam-diam saya mencari sendiri informasinya, termasuk penjelasan yang langsung dilontarkan Rara dan Ananda Badudu. Perpisahan ini tiba-tiba tapi tak menyentak saya begitu saja pada awalnya. Hanya yang saya sesali (dan syukuri kemudian) adalah belum pernah melihat mereka bermain secara langsung di depan mata.

Rabu, 09 Agustus 2017

Berbekal Lima Indera

Praktikum, Mengembangkan Keterampilan
Hari ini, saya masih berjalan bersama tugas akhir prasyarat kelulusan sarjana. Apa yang saya teliti berhubungan dengan kemampuan manusia, pelajar SMA lebih tepatnya. Bukan sekedar kemampuan berpikirnya, tapi juga tindakan yang mampu mencermin refleks dalam menemui sesuatu yang baru dihadapannya.

Minggu, 16 Juli 2017

Tiga Orang dalam Raditya Dika

Digambarkan dengan semena-mena oleh dirinya sendiri
Sejak pertama kali mengenal namanya melalui sebuah buku berjudul Kambing Jantan, saya termasuk satu diantara yang tak lepas mengikuti berbagai karyanya yang lain. Meski bukan penggemar garis keras, banyak karya (dan kadang kehidupan pribadinya) menarik untuk diikuti. Kali ini video unggahan mengenai perjalanan hidupnya lah yang memanggil saya, setelah banyak orang di sekitar saya membicarakannya. Mereka bilang, tonton lah untuk tau siapa sebenarnya Radit.

Minggu, 25 Desember 2016

Pengakuan


Butuh dua tahun untuk mengaku, itu pun saat akhirnya harus benar-benar pergi. Saya tidak lagi bisa hanya berpamitan sebentar, kemudian disambut senyum atau gelak tawa saat pulang. Tawaran untuk ambil bagian menjadi lebih berguna juga sudah jauh tertinggal berbentuk cerita bersama mereka. Sebelum tulisan ini berlanjut, saya mau mengingatkan bahwa tulisan ini akan jadi memorandum dalam bahasan paling singkat. Mungkin, satu dua hal tidak disetujui anggota yang sama-sama ada di dalam rumah ini saat mereka membacanya, saya tidak peduli. Ini adalah kacamata saya, juga semua nada dalam kepala yang bisa saya terjemahkan.

Minggu, 30 Oktober 2016

Mengambil Ancang-ancang

Sekitar dua bulan yang lalu, saya baru saja selesai mengikuti kegiatan KKN yang saya ceritakan disini, sekaligus Praktik Pengenalan Lapangan (PPL) di salah satu SMA di Jawa Tengah. Kewajiban saya selama masa PPL ini adalah terjun langsung untuk memiliki pengalaman nyata dalam mengajar. Ternyata hal itu bukan hal yang mudah. Pertemuan-pertemuan pertama saya hancur. Banyak hal luput dari ideal mengajar yang sudah pernah diteorikan oleh para dosen saya di perkuliahan.
Berhadapan dengan mereka, berarti berlatih mengambil ancang-ancang

Selasa, 04 Oktober 2016

KKN? Most Likely Super Summer Camp!




Anak KKN masih nyaru kan sama pemuda desa?


Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebenarnya bertujuan utama sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dari pihak mahasiswa dan kampus di masyarakat. Program ini biasa dijalankan kami, para mahasiswa di semester sekian (baca : tua ), yang sudah menempuh sekian SKS dan merupakan mata kuliah yang wajib. Maka dipastikan, setiap kampus yang memiliki program ini, mahasiswanya harus menjalani kegiatan ini untuk bisa sampai pada kelulusan.

Jumat, 21 November 2014

Jadi buruh? Kenapa tidak?

   Indonesia yang memiliki populasi manusia beratus-ratus juta mempunyai potensi sumberdaya manusia yang tak bisa dianggap remeh dunia, terutama dunia industri.
   Tak heran, jika investor asing seluruh dunia memutuskan membuat pabrik besar bahkan beberapa pemilik saham besar menjadikan Indonesia sebagai pusat produksinya, seperti salahsatu produk boneka paling terkenal di dunia. Maka cukupkah kita berbangga karena hal ini mampu menyerap banyak tenaga kerja dari masyarakat kita dan membuat negara memiliki pendapatan yang banyak?
   Boleh jadi iya, karena masyarakat kita tertolong, mereka yang berada dalam kondisi terdesak karena ekonomi, fisik, atau sebagainya bisa tetap produktif, terutama yang berada pada usia muda. Keadaan ini juga mengurangi angka pengangguran yang konon tiap tahun meningkat di Indonesia seiring meningkatnya laju pertumbuhan penduduk. Pertanyannya, mau sampai kapan?

Sabtu, 25 Oktober 2014

Bernegara, sesederhana solat berjama'ah

   Sebenarnya, sudah lama melihat orang malaksanakan solat berjama'ah, kayaknya sejak kecil. Mungkin pun kesadaran ini juga telah banyak dipahami oleh mereka yang lebih banyak ilmunya ketimbang saya yang sadar agak terlambat.
   Solat berjama'ah adalah kegiatan ibadah yang diganjar pahala 27 lebih banyak dibanding solat sendirian, dilakukan oleh minimal 2 orang. Ada imam dan makmumnya, imam yang memimpin dan makmum tentulah yang dipimpin. Semakin banyak makmum yang turut serta, imam hampir selalu mengingatkan untuk merapatkan shaf atau barisan. Sampai pada permulaan solat, ada pesan yang tertangkap untuk seluruh pelaksana solat baik sebagai imam maupun makmum untuk memiliki tujuan yang sama, beribadah kepada Tuhan (Allah). Pemilihan imam pun tak bisa sembarangan, bukan dengan mengeluarkan suara terbanyak sebagai jalan utama tapi dengan melihat siapa yang paling tua diantara para jamaah, atau paling baik bacaan solatnya, itu yang saya tau. Jelaslah perintah Allah bahwa memilih pemimpin harus yang memiliki potensi untuk mencakup semua tipe orang yang dipimpinnya dan meminimalisir kesalahan yang dapat merugikan semua pihak.
   Lalu ketika seorang imam sudah dipilih, para makmum harus menuruti perintah, gerakan, dan bacaan imam seperti yang sudah sebelumnya saya katakan. Merapatkan shaf membuat sela diantara makmum tidak ditempati oleh syeitan dan memberi ruang lebih lapang bagi jamaah yang nantinya menyusul. Ketika bernegara, merapatkan barisan oleh semua elemen masyarakatpun sangat perlu, apapun jabatan dan amanah mereka di lingkungan. Hal ini menurut saya terutama untuk membantu sang pemimpin tentu saja, karena sehebat apapun ia, ia takkan mampu bekerja sendiri. Selain itu, rasanya saling merapatkan dan berpegang teguh satu sama lain dapat membuat semua saling mendukung dan membantu ketika ada satu bagian yang mengalami masalah. Rasa percaya, saling menghargai dan mengasihi pun muncul sebagai individu yang berada dalam satu naungan negara karena semua saling merapat dan bukan lagi mempermasalahkan perbedaan yang ada. Seperti dalam solat berjamaah, tak semua orang mengambil posisi bersedekap yang sama. Tapi baik imam maupun makmum, selama itu tak mengganggu dan masih dalam koridor yang diajarkan agama, semua saling percaya dan bertoleransi bahwa doa terbaik kita tetap akan sampai padaNya. Imam akan tetap memimpin solat di depan makmum dan tak menengok kebelakang saat solat.
   Lalu apakah karena imam telah dipilih dan dipercaya karena kualitasnya, para makmum tak memberi pengawasan saat solat? Tentu saja tidak. Imam adalah teladan, semua ucapan dan gerakannya ditiru makmum saat solat, ia yang akan melaksanakan semuanya lebih dahulu sebelum makmum. Tetapi sebagai manusia, imam pun terkadang membuat kesalahan akibat lupa atau alpa, tugas para makmum lah untuk mengingatkan dengan tepukan tangan atau bacaan tasbih.
   Tentu ini pun bekal bernegara atau bermasyarakat yang dicontohkan langsung oleh Rasulullah. Tak hanya imam yang harus mendapat kepercayaan makmum, makmum pun sebagai masyarakat juga perlu mendapat kepercayaan pemimpinnya agar semua usaha memajukan negara bisa berjalan maksimal, meskipun pemimpin tak melulu bisa melihat orang-orang yang dipimpinnya. Tunduk dan patuh dengan ketentuan pemimpin menjadi harus sebagai acuan agar tujuan seluruh masyarakat terlaksana. Meski begitu,  pengawasan dan peringatan dari masyarakat pun perlu dilakukan agar tak ada pihak yang akan diunggulkan atau dimenangkan, semua sama rata juga rasa.
   Terakhir, saat salah satu makmum (atau bahkan imam) melakukan hal diluar ketentuan solat. Secara sadar, solat mereka secara individu akan gugur dan harus menerima konsekuensi secara individu pula untuk mengulang solat. Hal ini memberi tanda, bahwa siapapun yang melanggar batasan atau aturan yanng dibuat, siapapun jabatannya melakukan kesalahan hendaklah berusaha tahu diri agar tidak menjadi bibit virus yang menulari orang lain yang tidak berbuat salah disekitarnya dengan ikhlas menerima segala resiko yang harus dihadapi.
   MasyaAllah, begitu sempurna Allah menciptakan sistem dengan contoh yang paling konkrit dan mudah sebeneranya untuk dipahami manusia. Semoga kesalahan saya saat menulis ini dapat Allah perbaiki dengan penangkapan indera yang membaca.  Allahu'alam