Napak tilas sebuah lisan yang berbicara lewat baris-baris kata tentang sebuah perjalanan
Rabu, 19 Agustus 2015
Jangan sampai malam
Kamis, 06 Agustus 2015
Dalam tidur
Selasa, 30 Juni 2015
Tempat Sampah
Seberapa jauh cintanya?
Seberapa akrab?
Pada akhirnya diantarkannya kau pada peluk ku
Lebih sering tanpa mata yang harus berkaca-kaca
Menguar dalam rongga
Penuh gaungnya merayapi setiap sisi
Tak apa
Desah rintih bahkan amuk, hanya milik dengarku
Bersenandunglah dalam kidung laramu
Jika lagu-lagu mu kemudian diam
Tubuhmu endap
Aku menyimpan seluruhnya
Cerita masyhur hingga tangismu sendirian
Kemungkinan lain, masih saja ada yang coba memisahkan
Memeras sekali lagi
Katanya, kamu terlalu jelita
Apa aku terlalu buruk rupa?
Tak tau saja,
Hanya bersamaku, kau bisa diperebutkan
Senin, 22 Juni 2015
Anomali
Berbicara dengan ragamu
Meski bibir hanya menemukan punggung untuk pecah
Untuk sekejap tawa yang sudah
Hingga prosa hidup manusia berwarna ungu
Atau ceritamu yang hanya mampu tertangkap telinga dan pikirku satu-satu
Aku mampu
Menerima segala baikmu
Tanpa meninggalkan cara untuk mencari celahmu
Aku manusia, tak ingin seseorang berupa sempurna begitu saja
Terlebih kamu
Hanya untuk berpegang agar angin tak turut melayangkan rasa
Rasa yang menjauhkan dari nyata
Jumat, 19 Juni 2015
Ayah - Andrea Hirata : Berjanji Membacanya Lagi
Kamis, 18 Juni 2015
Menjadi Kuat
Datang lagi,
Gemanya lembut terdengar
Serupa pijar, satu-satu kemudian segala urusan menjadi terang
Sebab seringkali berbenah bukan perkara lumrah
Tapi waktu menjadi tau, bahwa ini adalah detaknya yang ditunggu
Ramadhan
Satu dua kali aku pernah meracau
Menjadi manusia kuat adalah tak mengungkung bebasnya manusia lain
Benar memang
Tapi kuat bukan hanya perkara aku saja
Kamu, juga kita
Kalau bukan karena cinta, tentu saja
Aku ingin menjadi kuat sendiri saja
Paling tidak hanya bersama adik kecilku yang tengah belajar meraba
Seberapa tegar ia bisa berjalan, tanpa berpegangan kala kita mesti berpapasan
Sulit?
Tentu, maka aku tau cintamu genap pada kami
Sehingga sudi pun kamu belajar, meski hanya lewat kisi
Membumikan hati untuk mengerti
Tak ada yang lebih hebat dari kemampuan memahami
Terimakasih tak mengizinkanku kuat sendiri
Membiarkanku mudah tanpa harus meminta
Karena kamu tau aku selalu menunggu
Dalam sebelas berbanding satu untuk bertemu
Dalam kurun yang sama
Aku pun berguru pada peduli mu
Untuk tak menjadikan celah dalam berbeda
Karena tak ada perintahNya untuk tak baik pada sesama
Rabu, 10 Juni 2015
Tulisan Pindahan : Penasaran dan Kota Bogor
si kantong mana mau muncul di lingkungan sebersih ini ?:)
|
Tulisan Pindahan : Emon, sampai jua ke pantai
Laporan Genetika
![]() |
sumber |
Semester ini hampir saja usai, hanya menyisakan ujian akhir dan tugas-tugasnya yang tiba-tiba datang. Beberapa mata kuliah adalah mata kuliah prasayarat yang harus ditempuh berurutan dari semester sebelumnya jadi untuk menjalaninya saya tak begitu merasa kaget. Beberapa yang lain masih benar-benar baru untuk dipelajari, walaupun pernah saya dapatkan di masa SMP atau SMA. seperti kata orang, kuliah tentu saja beda.
Display Picture teman
Ini perantauan yang pertama bagi saya dan mungkin menjadi tahap awal dari rantauan saya berikutnya kelak, seperti beberapa teman seumuran saya yang sudah lebih dulu merasakan jauh dari rumah dimana keluarga yang terhubung darah berada. Ada beberapa yang merantau sejak SMA, bahkan SMP!
Selasa, 09 Juni 2015
Sabtu, 30 Mei 2015
bayang
Selasa, 12 Mei 2015
Trip to : Semarang Banyak Simpang
Gereja Blenduk yang dibangun tahun 1753 dan masih digunakan sampai sekarang oleh umat protestan |
salahsatu bangunan di kota lama |
Semarang Contemporary Art Gallery |
Full team di salahsatu baian Lawang Sewu yang dijadikan museum kereta api Indonesia |
Salahsatu sudut syahdu di Lawang Sewu |
Last destination, seru! |
Selamat yang Sedikit Terlambat
Sabtu, 25 April 2015
Senin, 06 April 2015
Aku harus berhenti
Jumat, 03 April 2015
Terbiasa Berbeda
Sekali ini aku tak ingin menyangkalnya
Kamu lahir tujuh bulan lebih dulu di musim terik dan kususul saat hujan sedang ramai-ramainya
Disitu kita sudah berbeda
Nyatanya kita tetap menganggapnya sama sejak dulu, perkenalan pertama.
Lewat seorang tokoh lain yang membuat kita meriah
Tak banyak masa kecil mu yang aku tau selain temanmu juga sama denganku dan dua saudaramu yang tak pernah bermain jauh dari kita. Kalian bertiga begitu mirip.
Setelahnya, kita seperti menggenapi takdir rotasi yang Tuhan genapkan pada masing-masing harap
Tetap ada tapi tak bertatap
Jika aku bumi, mungkin saat itu kamu jadi venusnya. Kamu beredar dekat tapi hanya pada beberapa fajar aku mampu melihat
Jika benar, bumi dan venus itu jauh kan? Berbeda pula
Lucunya kita justru memulai perkenalan kedua
Senin, 30 Maret 2015
Bentuk Hati
Siapa pernah masuk dalam hatiku?
Kisahkan apa yang ada
Aku ingin melihat melalui mata juga kata
Bagaimana bisa memasukanmu yang besar dalam salahsatu ruang
Iya aku memang mendamba hatiku lapang
Tapi tetap saja seperti kamu, yang lain juga tak selalu ingin ada pada pijak yang sama
Sampai sini, aku hanya bisa merasa
Bagaimana sebuah ruang mengantar banyak rasa
Kamu kah itu? Berapa yang kamu sumbangkan? Satu atau sejuta?
Hati yang ini kadang ingin banyak bicara
Tapi tidak saat rongga terbuka, semuanya kelu
Sesekali waktu akhirnya menimbulkan suara
Lebih sering sumbang
Karena teriak terdengar cicit
Atau suka justru melontarkan duka
Keberadaan satu ruang baru sering menyulitkanmu bukan?
Hati suka berlebihan
Merelakan banyak ruang terkudeta
Menyesakkan himpit yang sudah menjepit
Baik, atas nama hati semoga maaf menjadi milikku
Tapi tak ada yang pernah benar benar pergi
Karena tak pernah ada yang mau menempati ruang berjejak
Beberapa yang tak terkunjungi memilih menepi
Kemudian kembali
Senin, 23 Maret 2015
Perkenalan dengan Senja
Saya hanya ingin menyalahkanmu
1000 kata untuk kita
Senin, 16 Maret 2015
Da aku mah apa atuh cuma anak Bekasi
Da aku mah apa gitu cuma anak Bekasi
yang adanya di ujung provinsi.
Tinggal di kota berumur lebih muda dari umur sendiri yang pembangunannya makin punya ciri.
Sentra niaga penyangga ibukota negeri
Delapan belas tahun ini, setelah sekian kali di bully baru sadar kalo kekayaan tak habis adalah milik semua penghuni
Mau tanya soal materi? Toleh saja kepala menghadap mall dan perumahan di tanah moyang yg tak terkenali, cari bagian yang tak berpenghuni meski cuma sesenti. Setiap pundi kami dikeruk oleh peminta-minta berdasi, tak pernah absen kami memberi. Bukankah kami begitu murah hati?
Kalau bicara budaya, tanyakan pada kami
Satu tak cukup membuat kami berdiri
Tubuh kami serupa perca warna-warni
Terjahit rapat melintang melalui banyak sisi
Tak ada yang menghakimi kepemilikan hakiki
Karena bertenggang lebih baik dari mencibir saudara sendiri
Da kalo di Bekasi mah, jauh, macet dan kotor katanya
Padahal kami cuma berusaha baik hati
Perintah Tuhan, maksudnya
Kasih jalan orang ibukota juga desa supaya tak melulu berada dalam tempurungnya, kalau begitu hitung saja berapa banyak jumlah kaki berodanya
Sedangkan tempat kami terhimpit, sempit
Toh setidaknya kami berusaha tak jadi tuan rumah yang pelit
Buktinya, tak cuma melintas. Kami berlapang sediakan lumbung
Bukan padi seperti Karawang, lebih seperti timbunan uang juga ampasnya
Pemiliknya seringkali bukan kami,
Tak jadi soal, selama kami masih bisa memberi
Memahami kepatriotan kami yang tak meminta ditulisi
Selamat ulangtahun Bekasi, terus ajarkan aku memberi tanpa mengharap. Setidaknya, dimana orang baik berkumpul tanganNya akan selalu siap melindungi.
Senin, 23 Februari 2015
Seorang teman
Dari berjuta ingin dan rasa butuh sebagai manusia, teman mungkin masuk dalam daftar yang dimiliki penghuni bumin. Lalu apa yang kamu harapkan pada seorang teman? Mungkinkah orang-orang yang banyak memiliki kesamaan denganmu? Atau mereka yang bisa mengajakmu berdebat setiap waktu. Baik, pikirkan.
Kamis, 19 Februari 2015
Perjalanan Terhebat
Perjalanan ini singkat saja menurut jarak, hanya Bekasi-Jatinegara. Itupun hanya sampai pada stasiun kereta. Seberapa sih lamanya? Lama, empat jam tiga puluh menit. Karena kondisi ibukota saat itu hujan dan kemudian banjir, belum ditambah banyak kereta yang sulit melintas. Tapi demi putri sulung dan kakak satu-satunya, tidak ada kata tidak untuk mengantar sekaligus menemani hingga pasti saya aman di perjalanan menuju Jogja.
Kamis, 05 Februari 2015
One day
Minggu, 25 Januari 2015
For the distances
Aku kerap lupa bahwa kamu juga ingin dicintai. Maaf aku sering merutuk karena hadirmu yang kadang tak masuk dalam daftar pinta.
Sekarang biarkan aku berterimakasih karena kau ada, karena bersamamu Tuhan titipkan sisi romantis dalam semesta untuk membuatku menjadi hambanNya yang beruntung.
Karena kamu ada, luka yang pernah ada terpelihara baik hingga mendekati sembuh
Karena kamu ada, ada rasa yang cukup dengan hati saja aku bercerita