Minggu, 07 Februari 2016

Katamu, Bermimpi itu Perlu



 #30HariMenulisSuratCinta
Halo, aku bingung bagaimana harus menyapa laki-laki yang jauh lebih cerdas juga punya wibawa. Rasanya, harus pula dalam diri ini menyiratkan hal sepadan, tapi jika tak terlihat jadikan sekali ini adalah pemakluman. Lain kali aku akan belajar. Menulis untukmu adalah percobaan yang tak beranjak dari menemukan masalah, langkah satu dari lima dalam penelitian tuntas. Tak pernah selesai apalagi terbaca kamu. Kamu, laki-laki yang sampai hari ini masih bertanda lajang. Tapi hidupmu tak berhenti berkawinan dengan banyak hal baik.
                Tak sulit menemukanmu meski waktu itu adalah empat tahun yang lalu. Pikiranmu ada dimana-mana. Tercecer di berbagai tempat dan membekas setelah aku berjumpa. Persis penunjuk pada kamarmu sejak dulu di dunia maya. Cukup beberapa kali aku tertawa, baik saat kamu masih ramai bercanda dengan dua sahabatmu (yang kini jarang ku temui dalam formasi utuh) ataupun sendirian melempar kata pada ribuan orang di berada rumahmu, aku tak lagi bisa berhenti untuk suka. Kata-katamu jujur dan dekat, yang jauh cukup raga kita yang belum berkesempatan bertatap. Tak hanya pikiranmu yang membuat aku mulai luluh, suaramu juga jari yang bisa digunakan dalam bermain gitar selain mengetik dan menulis tentunya adalah sesuatu yang pernah mengundang senyumku datang. Tapi memang tak ada yang lebih menyenangkan ketika aku memiliki potongan-potongan pikir juga mimpimu dan kini satu-satu terwujud. Kamu laki-laki baik yang omongannya bisa dipercaya.
                2016, semakin banyak caraku bertemu kamu. Makin banyak kamar kreatifmu bertebaran di rumah-rumah besar. Sarana yang kamu jadikan untuk mengambil pundi juga berbagi. Tak hanya semakin banyak, ada pula yang berkembang dalam dirimu. Hal baik tentunya. Kamu perlihatkan dengan bebeapa judul buku yang berulangkali cetak ulang, kelas menulis yang kamu buka untuk memanjangkan bantuan kepada yang membutuhkan sekaligus menambah pengetahuan mereka yang berniat memaparkan pikiran secerdas caramu, hingga puncaknya sebuah film adaptasi dari salahsatu judul bukumu sendiri. Dari rencana, proses hingga hasil kamu disana. Tak pernah alpa apalagi mundur. Kamu semakin hebat dan kaya. Hitunganku tentang materi lemah, tapi aku tau pemuda Sragen yang dulu ribut membayar sewa kost, kini mampu hidup di belantara Jakarta tanpa harus menghamba uang pada sang mama. Lebih dari itu, banyak yang tak terhitung sebagai harta termasuk yang tak sengaja terbagi kepadaku. Wajah-wajah baru berbeda warna yang mengisi kepala juga tawaku. Tapi bagiku, kamu tetap yang nomor satu.
                Seperti kamu, aku juga ingin bermimpi dan mimpi adalah sebuah absurditas yang bisa jadi disetujui Tuhan untuk menjadi fakta, nyata. Jika aku memimpikan kamu berganti status dari lajang dengan namaku disana mungkin bahagiaku adalah utuh. Pikiranmu yang luas mungkin punya jawaban atas banyak pertanyaanku yang biasanya hanya mendapat respon pertanyaan-lu-apaan-banget-sih dan aku bisa tertawa sepuasnya dibalik punggung atau memikirkannya dalam diam dalam rengkuhan pelukmu yang nyaman. Tentu saja, aku akan berusaha sekeras mungkin tak mengganggu sibukmu sebagai pengasuh dan bos yang baik di kantor. Aku juga punya kecintaan lain yang dapat menyibukkanku dan tak akan kamu cemburui tentunya, karena pulangku akan selalu kamu. Saat hal ini terjadi, aku sudah dalam kondisi tau bagaimana caranya bahagia dan kamu pun sama. Kita hanya perlu menjadikannya satu untuk menyatukan banyak keindahan. Karena aku percaya, kebehagiaan seseorag adalah warna yang menyenangkan bagi orabg lain.
                Sayangnya, aku tak bisa memasak untuk memenangkan perutmu agar hatimu senang. Itu belum jadi kesukaanku. Tapi bisa kan tempat makan favorit masing-masing dari kita menjadi bagian dari keseruan tiap kita merasa lapar? Tak hanya di sekitaran Jakarta (atau Bekasi), jika aku sedang berada di Yogya demi sebuah cita-cita menjadi sarjana pengajar yang baik, aku bisa menemanimu makan enak di gudeg pawon yang harus antre dari jam 9 malam untuk dapat seporsi gudeg ayam di jam 11 malam lalu cari wedang ronde di sekitaran tugu. Setelahnya isi kepala kita bisa beradu di udara hingga pagi atau kembali petang, kebiasaan yang buruk memang. Tapi aku janji, itu hanya sesekali saat kunjuganmu kesini.  Jogja memang banyak berubah, tapi sisi romantisnya tetap terjaga. Aku rasa menunggu aku menikmatinya bersamamu.
                Selalu menyenangkan berandai-andai dengan seorang teman perjalanan. Setiap musim, setiap hari bahkan satuan waktu apapun bisa berisi banyak rencana juga cita-cita yang tak pernah ingin jauh dari nyata. Karena berjalan adalah menatap apa yang disguhkan semesta di depan mata dan taka ada waktu membahas rasa perih pada luka yang telah ada. Iya, pengandaian ini menjadi mudah karena sudah sejak empat tahun lalu kamu menemaniku berjalan, menunjukkan bagaimana caranya menata satu-satu mimpi kecil agar yang besar terlaksana, merasa sepenanggungan meski kita tak bertemu muka hingga mengangkatku tinggi-tinggi agar aku melihat banyak sisi dari dunia. Kamu yang mampu membahagiakan banyak hati dari babak belur milikmu sendiri, yang bekerja keras tanpa henti untuk membayar semua caci maki dan sejak lama membuatku jatuh hati tapi baru berani mengungkapnya disini.
                                                                                                        Yang berharap bisa berjabat denganmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar