Selasa, 02 Februari 2016

Dua Laki-laki di Tahun ke Empat

#30HariMenulisSuratCinta
Perkenalan kita tak pernah langsung memang, tapi kalian datang dan saya begitu saja senang. Rasa percaya begitu saja cepat menjalari saya meski berkali-kali setelah kita saling mengenal kerap kali ada paksaan yang harus dituruti. Sesekali tangan juga pipi ini adalah sasaran yang tak bisa dihindari.
Anehnya sampai hari ini saya tetap nyaman, berada diantara kalian. Disayangi dengan cara yang tak sama dan ini tahun keempat kita bersama.
Akang, begitu saya memanggil sebelum nama kalian. Tak ada laki-laki lain yang berjuluk seperti iti di hidup saya setidaknya jika kemudian ada hanya kalian yang menjadi dua di dunia, lainnya cuma lewat.
Tau apa yang paling berharga dari kalian bagi saya? Senyum.

Senyum yang hanya ekspresi tengah-tengah antara tawa dan masam
Tapi ternyata jarang dan rasanya seperti mendulang emas
Emas yang harus saya keruk dari pengulangan berhari-hari di waktu pagi, sebelum bel sekolah berbunyi bahkan jauh melewati petang setelahnya seringkali saya harus terus berani menggali.
Kenapa bukan tawa? Ah, sudah terlalu banyak jika saya tak berdiri di barisan. Hampir tak ada pertemuan yang tak diisi tawa meski sebelumnya harus ada muka masam dengan gelengan kecewa di tengah lapangan.
Salahsatu diantara kalian pernah berujar, keberhasilan memang didapat dari pengorbanan yang total, jika tak siap untuk menerimanya lebih baik tidak sama sekali. Satu-satunya cara untuk tau kebenarannya adalah dengan mengujicoba. Saya beruntung, didampingi dua orang hebat dalam membuktikannya, biar berkali-kali mencoba melawan hipotesis dan gagal, kalian tetap ada. Menepikan sejenak untuk mendengar alasan saya menjadi pembangkang, kemudian sekali lagi mengarahkan untuk sampai pada tujuan.
Kini tahun keempat, maka apa lagi?
Tiga tahun ke belakang adalah perihal kalian yang tak berkesudahan memberi, memberi banyak arti untuk langkah yang tak pernah sia-sia. Apapun yang banyak mulut bilang, kalian melatih telinga ini untuk semakin peka bukan tuli. Tahun ini boleh saya mengawalinya dengan serentetan doa? Karena baru sampai disana kemampuan yang saya punya. Semoga lah kalian tetap bersedia setia berdiri mengawal langkah saya dan tujuh orang lainnya menemui mimpi yang pernah kita tulis bersama-sama dalam ingatan, memastikan tak ada lagi telinga tuli di hari lalu sehingga kami aman dalam ajaran yang pernah kalian tularkan dan sesekali mampu menjadi bagian dari lanjutan perjuangan yang kalian lakukan meski sekedar menjadi pendengar.
                 Pasukan saf dua banjar empat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar