Kamis, 18 Februari 2016

Cermin yang Berbicara



Sejujurnya saya akan membuka surat ini dengan penyesalan, karena keberadaannya adalah buah dari permintaan yang tak bisa saya tolak. Kesalahan saya juga sih, menawarkan semena-mena seakan saya tau harus menulis apa tentang kamu. Sekarang saya kena bala, apa yang saya pikirkan untuk menjadi surat ini adalah siapa saya sebenarnya di hadapan banyak mata yang kelak akan membaca.


Kemari, baca ini jelas-jelas. Bertemu denganmu adalah kesalahan yang sengaja saya teruskan. Karena denganmu, membaca seluruh rupaku adalah hal yang terlalu gamblang. Saya kerap ingin menjauh dan enyah tapi sayangnya saya masih menjadi manusia pada umumnya. Seperti jutaan lainnya, salahsatu kegemaran tak terelakkan adalah mematut diri dan berkaca. Akhirnya, saya merelakanmu tetap disini juga demi kewarasan yang tak dapat dibeli.

Padamu cermin yang lantang berbicara, saya membuka seluruhnya. Kemampuanmu mengeja lewat airmata tanpa harus bertanya kenapa duka-duka itu hampir membuatku kalah, kadang boleh juga. Kamu, bayang yang berani berhadapan pada muka bertemu muka menegaskan saya tak pernah tertawa sendiri meski seringkali alasan-alasan yang dibuat semesta terlalu sederhana, dan suara tawa itu selalu nyata. Mungkin memang dongeng-dongeng masa lampau adalah benar adanya. Bedanya, saya tak pernah terlahir dari ayah seorang raja, maka kamu pastilah tak akan memuji saya sebagai perempuan paling cantik di dunia. Bahkan sekalipun jika saya berani meminta, kamu hanya akan menanggapi bahwa itu tugas ksatria yang kelak mendampingi hidup saya selamanya.

Teruslah berbicara kepada saya apa saja, seperti hari-hari kita pernah sangat dekat hingga harus berjauhan. Semoga kamu tidak lelah, menyebutkan kembali banyak sekali mimpi yang pernah saya tuturkan satu-satu bahkan memerankannya untuk menjadi sebuah nyata. Keluh juga sesal kita seringkali sama, jelas lah mengungkapnya di hadapan muka. Karena kamu tau, seringkali saya tak pernah selesai bercerita dan hanya merangkumnya dalam tangis-tangis yang berisik di telinga. Tolong, sesekali hadapi mereka jika saya hanya ingin berhadapan dengan kamu. Seperti biasa, saya selalu percaya kamu mampu memposisikan saya hingga terhindarlah saya dari banyak cela dan basa-basi.
                                                                           Yang Selalu Memastikan Tampilan Terbaik di Hadapanmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar