Rabu, 19 Agustus 2015

Jangan sampai malam

Benarkah tak cukup yang pagi sampaikan? 
Sampai malam harus menungguimu berkata-kata
Padahal kita bertemu di banyak terik siang
Mimpi-mimpi naik ke langit sudah lewat deru napas yang menguap 
Tinggi sekali
Kau tau itu

Kamis, 06 Agustus 2015

Dalam tidur

Pedati beroda besi ini panjang sekali, nak. Seperti perjalananmu yang diam-diam menjadi doaku. Malam ini, dalam pejam matamu aku tau kamu begitu berarti di bumi. Paling tidak bagi dua orang yang mau mengalah, bersusah untukmu mempersiapkan mimpi.
Seperti apa rupa esok hari, hadapilah nak. Tertawa sajalah hingga tak ada takut yang membayangi kaki-kakimu berjingkat ke udara. Lakukan permainanmu dengan membuka inderamu satu-satu, hingga mengerti mengapa ibu ayahmu masih kerap mengingatkan dengan berbagai nada. Memahami kebebasan tak berarti sekenanya.
Selama tidur, nak. Untukmu matahari esok berjanji tak menyengatmu begitu saja.

Selasa, 30 Juni 2015

Tempat Sampah

Seberapa penting?
Seberapa jauh cintanya?
Seberapa akrab?
Pada akhirnya diantarkannya kau pada peluk ku
Lebih sering tanpa mata yang harus berkaca-kaca
Seluruh kisah dan saripati  kepunyaanmu, dulu
Menguar dalam rongga
Penuh gaungnya merayapi setiap sisi
Tak apa
Desah rintih bahkan amuk, hanya milik dengarku
Bersenandunglah dalam kidung laramu
Tak ada yang lebih lekat dengan tabah kecuali aku, kau tau?
Jika lagu-lagu mu kemudian diam
Tubuhmu endap
Aku menyimpan seluruhnya
Cerita masyhur hingga tangismu sendirian
Kemungkinan lain, masih saja ada yang coba memisahkan
Memeras sekali lagi
Katanya, kamu terlalu jelita
Apa aku terlalu buruk rupa?
Tak tau saja,
Hanya bersamaku, kau bisa diperebutkan