Selasa, 21 November 2017

JALAN MENUJU TOGA [Memulai Langkah]

Semua langkah besar ditentukan dari langkah pertama katanya. Saya mengamini pendapat baik entah siapa penutur pertamanya. Proses panjang ini tidak pernah terangkai jika tidak ada langkah pertama yang kemudian dengan tabah terus berlanjut.

November setelah percakapan dengan ibu adalah awalnya. Sejak hanya memikirkan tugas besar tanpa mendapat masalah yang jelas, sebuah mata kuliah dan tentu saja dosen khsusus sengaja disiapkan agar mahasiswa macam saya ini dipecut keras untuk berpikir. Saya harus mempresentasikan rancangan penelitian yang akan saya ajukan untuk tugas akhir di hadapan dua dosen dan teman-teman. Tugas ini menjadi langkah paling awal untuk menemukan tumpukan masalah yang ternyata ada di bidang yang selama ini saya pelajari.

Beberapa teman menyiapkan jauh hari sebelum tiba giliran mereka. Sejauh saya ingat, teman-teman banyak yang menyiapkan produk pembelajaran sebagai rencana tugas akhir mereka. Saya kagum tapi sayangnya tak mampu mengikuti. Nilai kreatifitas saya akan hal-hal seperti itu hanya mampu untuk melunasi SKS di perkuliahan biasa. Selain itu, saya juga ogah diributi perkara instrumen persiapan hingga evaluasi untuk validitas produk. Maka jadilah si pemalas ini mengambil penelitian analisis. Ada orag-orang yang kemudian menyayangkan karena anak eksakta menggeluti penelitian anak sosial, katanya.

Apa langkah ini mulus seperti jalan tol baru yang belum ada abang-abang tukang tahu kalau macet? Ya tentu saja tidak! Saya justru hampir ditelan langkah ini meski sudah merasa sangat percaya diri. Penelitian yang saya rancang masih terlalu luas cakupannya. Saya masih ingat menurut dosen pengampu, penelitian saya bisa seperti tiga penelitian dijadikan satu. Meluas dan terlalu rumit. Saya bisa saja menyelesaikannya dengan konsekuensi saya lulus jauh lebih lama ketimbang teman-teman sekelas. Ini imbalan menjadi perfeksionis dan menggebu-gebu  tanpa siasat.

Lalu apa saya menyerah? Tidak. Tapi saya memang sempat berhenti berkali-kali. Mengukur langkah selanjutnya yang ternyata tetap tergesa-gesa tanpa perhitungan efektif. Sepanjang mengokohkan rencana sampai akhirnya diterima dan penelitian berjalan, saya merasa seperti sebuah mesin yang berkali-kali harus di-restart ulang karena ketika akhirnya diterima dan harusnya sudah berjalan, saya harus mengubahnya untuk kemudian disetujui kembali. Banyak sekali langkah pertama yang hanya berujung sampai lima atau bahkan dua.


Syukurlah, di belakang langkah saya yang baru saja dimulai waktu itu ada jajaran dosen, kakak tingkat, dan teman-teman baik yang menyempurnakan hitungan saya pelan-pelan. Seperti halnya dosen yang paling pertama membaca rancangan juag isi kepala saya, ada orang-orang yang ikut memepertimbangkan tempat, waktu, jarak, sampai biaya agar saya selekas mungkin selesai. Kesabaran ini yang membuat saya malu untuk berhenti di perjalanan yang baru saja dimulai waktu itu. Lalu semuanya menjadikan saya begitu saja berani.  

Saya sengaja menyimpan bagian ini untuk diingat, sebab tidak mudah memulai juga meneruskan apa yang menabrak banyak hal. Beberapa kali berhenti kemudian mengulang langkah bukan sebuah dosa. Saya kini menyadari tak ada yang sia-sia justru membuat kaya. Ada nama-nama yang tak pernah menghukum atau menghakim dan harus saya teruskan agar yang berhenti tak kemudian patah lalu menyerah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar