Sabtu, 21 Mei 2016

Makan Malam Terenak



source
Menjadi perantau bukan perkara mudah bagi saya. Banyak hal yang menjadi tiada atau berubah karena tidak lagi dikelilingi banyak anggota keluarga yang lain. Salah satu  yang ikut berubah adalah cara memperingati hari ulang tahun keluarga dekat atau bahkan saya sendiri. Saya memang tidak dibiasakan untuk merayakan ulang tahun dengan pesta atau seremonial berlebihan. Tetapi paling tidak, ulangtahun di keluarga kami berarti doa-doa di pergantian hari, makan keluarga dari masakkan ibu saya yang tidak ada duanya dengan beberapa teman dekat dan ditutup oleh traktiran si punya hajat yang berulangtahun. Iya, intinya ngumpul dan makan enak dan bebas tugas rumah selama sehari.

            Hal ini yang tidak lagi dapat saya rasakan sejak Juli 2013 lalu, pasalnya di tahun itu saya resmi pindah ke Yogyakarta untuk meneruskan pendidikan. Saya semakin sulit mendapatkan kesempatan mengucapkan doa secara langsung pada saat ibu, ayah atau adik saya berulangtahun. Begitupun dengan mereka, saya juga tidak mungkin ada di rumah saat hari ulang tahun. Karena, ulang tahun saya yang jatuh di minggu pertama Januari SELALU bertepatan dengan pekan UAS perkuliahan semester ganjil. Maka sejak ulang tahun pertama saya di kota ini saya yang harus membiasakan keadaan ini, karena bagaimanapun ini akan terjadi lagi paling tidak di dua tahun berikutnya sebelum saya lulus. Momen ulang tahun tetap menjadi sesuatu yang penting namun tak lagi akrab dan meninggalkan jejak hangat bagi saya.
            Sampai menjelang ulang tahun berikutnya, di awal pergantian 2015 saya mempersiapkan diri untuk tak lagi menelan kecewa yang pastinya akan diisi belajar sampai pagi dan juga sepi. Karena berulangtahun di minggu ujian juga merupakan berkah ternyata, saya dijauhkan dari pekerjaan jahil teman-teman saya yang lebih memikirkan bagaimana cara mencerna semua materi yang akan diujikan ketimbang ngisengin saya yang ulangtahunnya juga ngga mereka ingat. Permintaan saya kepadaNya juga bertambah karena ini, deretan nilai A sebagai kado ulangtahun. Agak kemaruk dan tak tau diri, iya. Namanya juga usaha.
            Di hari itupun, saya cukup bersyukur. Orang-orang di rumah menelpon saya bergantian dan mendoakan hal-hal baik di umur ujung umur belasan. Iya, saya berulangtahun yang ke-19 waktu itu. Beberapa sahabat dan teman juga masih banyak yang mengingat tanggal lahir saya dan memberikan doa dengan banyak cara. Sayangnya saya belum berteman baik dengan dosen yang melaksanakan ujian pada hari itu, maka saya tetap diharuskan ikut ujian dengan tidak dijamin nilai A sebagai hadiah ulang tahun. Pulang ujian pun saya langsung tidur siang setelah tenaga dan pikiran diperas habis untuk mengerjakan ujian.
            Sorenya, saya terbangun karena ada belasan panggilan tak terjawab dari ibu. Dasar anaknya bebal juga masih ngantuk dan sayang pulsanya juga, saya hanya bertanya melalui chat  BBM bukannya menelpon balik. Kemudian tak lama ibu kembali menelpon dan menanyakan apakah saya sudah makan atau belum, dalam hati saya membatin kalau cuma tanya itu kenapa sampai menelpon berkali-kali? Setengah mengantuk saya menjawab apa adanya yang memang belum makan. Setelahnya ibu bertanya apakah saya mau makan, ya saya jawab mau, mana juga ada orang belum makan yang ditawari ngga mau kan? Kemudian ibu mengajak saya makan, saya iyakan saja karena seperti biasa kami sering bergurau seakan-akan kami ada di satu tempat yang berdekatan. Ibu meminta saya keluar kost kalau memang mau makan katanya, sampai sini saya mulai bingung. Apa hubungannya bercandaan kali ini sampai saya disuruh keluar, tentu saya tak mau. Ibu bilang “ibu tunggu di depan, ayo kita makan. Ibu juga lapar”. Saya langsung berlari ke depan meskipun masih setengah tak percaya. Ternyata ibu memang sudah berdiri sambil senyum-senyum di depan pagar. Cesss..... saya ngga bisa lagi berkata apa-apa dan cuma bisa memeluk ibu di tengah jalan. Untung sepi.
            Sebelum saya sempat bertanya tentang bagaimana beliau bisa sampai di Jogja tanpa mengabari dan membuat curiga anakanya yang ga peka. Ibu langsung bilang, “ibu ngga bawa kado apa-apa, jadi ibu aja yang traktir kamu makan buat kado ulangtahun ya, mba”. Dalam hati saya hanya bisa bilang, “Ya Allah ini kado termewah buat saya, maaf permintaan saya justru aneh-aneh. Untungnya Engkau selalu Yang Maha Tau, saat saya cuma hamba yang banyak bodohnya”. Maka jadilah saya makan enak hari itu, seperti ulang tahun saya dua tahun lalu, karena ibu juga berpesan makanan yang harus kami makan malam itu haruslah enak dan belum pernah saya coba, jadilah saya memilih rumah makan india yang menyajikan nasi kebuli dan kare karena sudah lama penasaran. Ibu paham bagaimana kehidupan anak kos yang lebih sering ngirit makan dengan cara yang penting kenyang, meskipun sebenarnya bisa sesekali saya makan enak (dan agak mahal). 
source

            Makan malam kali itu menjadi yang terenak menurut saya selama ada di kota ini meskipun saya pernah kembali lagi ke restoran tersebut bersama teman-teman saya atau makan ditempat lain yang menurut orang lebih enak. Kado ulangtahun yang satu ini tak bisa dipajang memang, tapi juga tak pernah habis sampai hari ini sudah sekali lagi saya kembali berulangtahun di tempat ini dengan suasana yang hampir sama. Meski tahun ini ibu sedang tak sempat melakukannya lagi, saya sudah merasa cukup. Sekali saja untuk tau, tak ada yang mampu menandingi kasih dan perhatiannya kepada saya, anaknya yang sering mbeling ini. 
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog ulang tahun ke lima Warung Blogger

8 komentar:

  1. Yang enak bukan makanannya mungkin ya, tapi momennya yg menjadikan enak hehehe. Oh ya, makasih sudah berpartisipasi dalam lomba ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hee karena enak bukan cuma perkara lidah
      Kembali kasih :)

      Hapus
  2. Ibunha romantis sekali. Baca ceritanya kerasa banget kedekatan dengan ibu. Terharuuu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mba, pengajaran romantis beliau jauh dari kata-kata tapi langsung pakai tindakan

      Hapus
  3. Senangnya punya ibu yang mengerti kerinduan anaknnya buat berdekatan dengan keluarga saat ulang tahun :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai mba Evi, iya alhamdulillah sekali

      Hapus
  4. Senangnya punya ibu yang mengerti kerinduan anaknnya buat berdekatan dengan keluarga saat ulang tahun :)

    BalasHapus
  5. makanannya boleh apa aja asal di temani ibunda tercinta...

    BalasHapus