Senin, 02 Januari 2017

Di Balik Mata

Saya selalu kagum pada tiap-tiap bagian dari tubuh ayah. Terutama punggungnya. Sejak kecil saya tumbuh disana secara harfiah atau makna kias. Saya, gadis sulungnya tak pernah cukup berani menyatakan banyak hal bila harus bertatap mata. Maka sampai hari ini, komunikasi kami berhenti setelah tiga empat baris kalimat. Lain jika saya lurus berada atau paling tidak menatap punggung tegapnya. Punggung yang tetap tegap sampai hari ini meski bebannya tak lagi saya bisa hitung, mungkin juga ia.

Ya ? Tunggu Dulu

Banyak dari orang-orang yang mengenal saya bilang saya super sibuk, susah ditemui, dan cenderung sombong hingga enggan kembali melontarkan ajakan. Sesering itu juga saya berusaha melakukan pengelakan yang sia-sia. Hal ini kerap terjadi dari banyaknya bentrok jadwal dan kata iya yang cukup mudah keluar dari mulut saya. Ulah si pelupa atau mudah tergiur berbagai ajakan terutama yang bersifat senang-senang mengakibatkan banyak jam-jam melenceng dari rencana dalam kepala yang sering membuat urusan saya bertambah banyak di kemudian hari.

Minggu, 01 Januari 2017

Luka Kita Pada Masa Ini

Masa mengantarkan pada medan penuh luka
Ada yang sengaja dibuka menganga
Bangga mengiris-iris rumpun yang sakit jika dibelah
Menyatukan seruan-seruan marah
Ketakutan pada hal-hal yang tak perlu  setelah itu
Lalu tangis ini milik siapa?

Sepanjang tahun
Kata membunuh banyak rasa percaya
Yang diam, pelan-pelan terbunuh jiwanya
Menelan segala pahit yang disuburkan hujan hujatan
Menjangkarkan benci entah hingga nanti berapa turunan
Tanpa tau sebab juga alasan
Bisakah hari ini kata sudah menjadi sekali lagi awal mula?