Minggu, 25 Januari 2015

For the distances

Dear jarak,
Aku kerap lupa bahwa kamu juga ingin dicintai. Maaf aku sering merutuk karena hadirmu yang kadang tak masuk dalam daftar pinta.
Sekarang biarkan aku berterimakasih karena kau ada, karena bersamamu Tuhan titipkan sisi romantis dalam semesta untuk membuatku menjadi hambanNya yang beruntung.
Karena kamu ada, luka yang pernah ada terpelihara baik hingga mendekati sembuh
Karena kamu ada, ada rasa yang cukup dengan hati saja aku bercerita
                                            Big fan of u,
                                                     Riz

Selasa, 13 Januari 2015

Bertanya

Perjalanan sejauh ini adalah impian, juga kesempatan, dan beberapa pertanyaan.  Pertanyaaan bersuara adalah milik mereka, semoga beberapa kata bisa membuatnya mengerti.
Bertanyalah mereka sambil sedikit pongah, benarkah aku ada karena kini kamu dikatakan berbeda? Akan kujawab iya, karena ada disamping mu adalah impian masa kecil yang diwujudkanNya melalui proses panjang, bahkan ditambahkan olehNya kesanggupanku berproses bersamamu sebelum dan sampai kelak masing-masing kita terlengkapi nyata. 
Kata mereka, banggakah aku atas kesanggupanmu memilih semuanya? Tentu saja, membanggakan seseorang yang berjuang menempati mimpinya di satu titik jauh seperti bintang dan tak pernah alpa membawaku serta apa perlu kembali dipertanyakan?
Lalu benarkah aku sanggup bertahan dan takkan pernah mampu tersingkirkan?
Aku akan memberikan kehormatan ini padamu untuk menjawab yang kusertakan kehendakNya.

Minggu, 21 Desember 2014

Bagaimana Saya Hanya Diharuskan Menempuh Jalan Berbeda OlehNya (2)

   Ini bagian kedua dari cerita yang saya alami satu tahun lalu untuk sebuah perjuangan baru.
   Setelah pengumuman dan saya tidak diterima di universitas yang menjadi tujuan saya (meskipun, Alhamdulillah sudah ada satu cadangan universitas lain), saya masih menunggu satu pengumuman lagi, yaitu penerimaan salahsatu politeknik kesehatan yang saya cadangkan untuk kelanjutan study saya. Alhamdulillah saya diterima disana tanpa tes juga, penerimaan ini ngga terlepas dari dukungan dan dorongan Ibu Dinni selaku guru BK saya di sekolah dan juga orangtua agar mencari alternatif lain agar waktu itu saya tidak terlalu stuck karena satu kegagalan, terimakasih. Hal itu membuat saya waktu itu memutuskan untuk tidak mengikuti tes tulis atau disebut SBMPTN kala itu. 
   Saya malah dengan santainya mengikuti lomba paskibra dan meninggalkan bimbingan intensif di tempat bimbel karena sudah tidak berniat ikut tes lagi. Latihan demi latihan kami lakukan dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Di pasukkan tersebut, tak hanya saya yang merupakan siswa kelas XII. Kondisi kami berbeda-beda waktu itu, ada yang seperti saya sudah diterima di universitas, atau sekolah tinggi, ada yang masih menunggu pengumuman ada pula yang belum tau mau melanjutkan kemana. Tetapi, pada saat latihan, pelatih kami mengajarkan untuk berlatih fokus pada satu tujuan yang ingin kami tuju, jadi meskipun sebagian dari kami masih resah, saat latihan kami hanya memikirkan tentang lomba tersebut.