Minggu, 05 November 2017

Kontra

Saya tidak pernah bercanda atau menutupi muka
Namamu ada dalam rapal doa di beberapa kala
Bukan, bukan sebagai korban atau tersangka
Saya menyematkan kamu sebagai kawan sejak awal mula

Awalnya kita bersanding,
Ada satu hal yang membuatmu mendaulat kita sebagai lawan tanding
Di titik itu kamu kokoh membangun dinding
Menanggalkan percaya 
Tak mau membuka kata pada saya yang buta

Kamu teman sejalan
Terbersit pun tidak menjadikan lawan
Maaf untuk tingkah paling sok tahi tentang perasaan 
Karena denyar sakit itu juga menggema ketika sedikit kamu perlihatkan
Bisakah kemudian kembali menyamakan anggapan?
Menjadi dua komplementer, bukan katamu kini. Subtituen.

Yogyakarta, setelah akhirnya membaca
Oktober 2017

Pesan

Saya bertandang
Karena permintaanmu untuk datang
Benar begitu?
Bukan untuk bertanding
Sebab tidakkah di tempat ini seharusnya memang hanya satu?

Kuasamu mengundang
Tentukan dimana letak satu-satu
Sila berhitung kapastitas dengan seksama
Ingat pesan ibunda, dunia taman bermainmu yang luas tapi hati tak termasuk di dalamnya
Di sisa kesadaranmu yang mungkin melayang
Ku ingatkan bagi kita berdua,
keserakahan masih dilarang

Yogyakarta, selepas bisik yang tak lalu begitu saja
Oktober, 2017

Rabu, 18 Oktober 2017

Naik Roda Besi Tanpa Pusing Lagi!

Ilustrasi Kereta Api

Sejak kecil berpergian menggunakan kereta adalah hal biasa bagi saya. Saya masih ingat, sekitar 13 tahun yang lalu naik kereta adalah perjalanan panjang melelahkan luar biasa karena harus berebutan tempat duduk dengan orang lain dan pedagang kaki lima, apalagi menjelang libur panjang. Karena pada masa itu, tiket kereta yang dijual di loket banyak yang tidak memiliki nomor tempat duduk, jadi berlaku prinsip siapa cepat dia dapat. Namun meski begitu, perjalanan menggunakan si roda besi selalu menyenangkan karena sepanjang jalan saya bisa melihat potret kota maupun desa di berbagai daerah tanpa macet.

Memang seberapa sering sih kamu menggunakan kereta api? Sering sekali, karena saya tinggal jauh dari orang tua selama berkuliah dan sering terserang rindu jadi saya bisa random tiba-tiba ingin pulang. Belum lagi, beberapa saudara dan teman menyebar di berbagai daerah yang sulit diakses menggunakan pesawat (baik secara geografis maupun finansial) maka kereta api adalah transportasi yang sangat akrab dengan saya.