Kamis, 24 Juli 2014

Untuk satu di tahun lalu

Ajarkan saya untuk berani
Ketika satu kejahatan membuat saya begitu ngeri melanjutkan langkah
Meski luka saya tekan kuat-kuat agar tak terasa

Tak pernah kubuka
Selain pada kejadiannya di satu waktu yang nyaris sama di masa lalu
Hati berkata bahwa ini caraNya mencintai
Nalar berdiskusi bahwa yang hilang takkan bisa kembali
Hanya akan ada yang baru yang datang lagi

Aku percaya

Tapi jelaskan maknanya
Mengapa pada genap di satu tahunnya
Hal itu terus menjadi bayang?
Bukankah mega sudah ribuan hari menyiram sinar lalu bulan tak alfa menenangkan?
Tak ikhlas kah artinya? Atau aku yang tak mau mengampuni?

Selasa, 08 Juli 2014

Saya menangis

Sore ini baru saja sebuah tayangan kompetisi menghapal Al-Qur'an selelsai tayang ketika adzan Ashar di masji dekat rumah berkumandang dan saya masih menangis. Kehilangan.
Sebabnya sangat sederhana sebenarnya, salahsatu adik yang mengikuti kompetisi tersebut harus pulang karena keliru membaca ayat yang diminta. Saya patah hati dibuatnya. Bukan karena kesalahannya, tapi karena kehilangannya lalu saya tak bisa lagi mendengar lantunan ayat suci dari bibir mungilnya dengan tilawah yang begitu indah.
Rasa kehilangan yang sama ketika saya tak lagi bisa menjumpai tuntunan teman-teman saya semasa SMA yang setiap pagi atau siang memimpin tadarus Al-Qur'an satu sekolahan sebelum pelajaran dilaksanakan.
    Ya rabb, bolehkah aku menjumpai, mendengar dan terus mengikuti lantunan indah yang mereka baca dan hapalkan agar rindu tak lagi datang?  Dengan kemurahanMu, biarkan itu menjadi salahsatu doa yang KAU makbulkan di RamadhanMu kali ini. Amiin

Senin, 07 Juli 2014

Sebelum aku terlelap

Sebuah pesan masuk di ponselku ketika malam jatuh hampir persis ditengah. Nomernya tak bernama, tetapi apa yang ingin kuingkari, aku hapal mati siapa pengirimnya. Tak ada sebenarnya arti pesan (yang mungkin) salah kirim tersebut. Tapi mengetahui siapa yang mengirimnya, aku bergidik. Banyak rasa berebut tak ingin menjadi resesif. Tapi bahagia? Tak ada rupanya.